Rabu, 28 Maret 2012

Apakah kamu pernah rasa sakit yang manis?



Mungkin seperti rindu yang serupa lintah. Mengeram erat di kulit, menghisap darah, menebar serum racun di dalamnya. Rindu yang membuatmu habis kata. Hilang napas. Hingga saat kau menghirup bau hujan, bahkan bakteri petrichor serasa meresonansikan sebuah nama. Atau rindu yang sedemikian tenang seperti gunung api di kedalaman lautan. Ada namun tiada. Mengapi namun sedingin lautan...


Ada sakit yang manis dalam dadaku. Seperti sakit saat aku merindukanmu.Mengetahui engkau mungkin... sekali lagi mungkin, merasakan hal yang sama. Dan saat itu, kita berada di tempat yang jauh. Aku tak sanggup memupuskan jarak menemuimu. Jadi aku akan duduk di kursi di gelapnya ruang tanpa cahaya. Membiarkan roh rindu mendekapku erat-erat. Aku kesakitan. Seperti ibu laba-laba yang membiarkan dirinya dimakan oleh anak-anaknya saat hari penebusan.


Sebaliknya kamu yang hanya mampu berdiam dengan jarak, menyisir gerimis di gelap malam. Sebab aku menitipkan rindu pada hujan yang mengguyur atapmu. Kamu tertidur lelap, dan menghitung satu-satu rintik yang tempias di atap. Serupa itulah rindu kita...


Saat-saat itu manis.
Tidakkah kau rasa.
Manisnya melebihi gula, merancap di lidah
Mungkin juga terlalu manis, membikin kita diabetik.


Seperti rindu yang aku rasa buat kamu. Saking sangat manisnya hingga membikin ngilu...


Bedebah

Aku semalam ketempat Winda...


Gila, effortku luarbiasa banget buat cari jawaban ya. Tapi gag sebanding dengan tindakanku. BB masih off dan soak. Aku membiarkannya supaya aku bisa mencari jawaban dulu dari pertanyaan-pertanyaan untuk memantapkan hatiku. Aku maju. Mundur. Apa tetep bertahan goblok seperti seperti ini. Dipermainkan sama perasaan dan egoku. Semalam aku berpikir ulang, sesungguh-sungguhnya apa yang membuatku gag mau nembak dia. Malu iya. Tertekan iya. Sebab itu gag sesuai ama prinsipku. Kadang aku berpikir, mungkin anak-anak yang selalu netral, dan gag ambil pusing dengan nama "prinsip" itu hidupnya lebih adem ayem kalik ya. Sebab, dia nggak dipusingkan harus bertengkar dengan dirinya sendiri setiap kali harus dihadapkan dengan tindakan... 

Dan nggak harus menyakiti dirinya sendiri dan gag ngerasa perlu tersakiti oleh lingkungan yang tidak cukup mengerti. Bukankah itu yang selalu aku rasakan saat peristiwa "Wiwin" itu terjadi. Aku merasa tersakiti oleh lingkungan yang kuanggap tidak cukup memahamiku. Dan aku terlalu sombong untuk memberitahu mereka apa yang kurasakan. Kubiarkan lingkunganku menghakimiku sekehendak mereka, aku tak ambil peduli dengan apa yang mereka pikirkan ttg aku. Tapi dalam hati ternyata aku kesakitan luarbiasa dengan ketidak mengertian mereka. Aku menuntut lingkunganku untuk mengerti tentang aku, tanpa menunjukkan efforts bagaimana mereka harus mengerti. Dan lebih parah lagi, justru aku memperlebar jarakku diantara mereka, membiarkan mereka semakin bertanya-tanya, tak kunjung menemukan jawaban. Adanya mereka justru berprasangka dan menghakimi. 


Hmmm... Egoku memang jagoan. Luarbiasa. Menghancurkan. 


Sesungguh-sungguhnya, hatiku sedang merebah. Sebab rindu ini kelewat bedebah!

Selasa, 27 Maret 2012

Slavery for Love

Semalam aku ngobrol dengan Devi, setelah seharian aku sedemikian nelangsa, aku mengeluarkan semuanya. Termasuk rencana-rencanaku yang ingin menjauhimu. Aku tak bisa mengingat semua yang dikatakan oleh Devi. Dan keputusanku tentu saja tidak tergantung padanya. Aku bahkan nggak bisa berpikir. Aku nggak bisa berpikir. Saat aku menulis ini dan menguraikannya satu-persatu aku masih kebingungan dan labil. Hatiku masih berat. Hatiku masih mempertanyakan keputusan terbaikku. Aku bingung sekali. 

Semuanya menyatakan untuk mensegerakan mengatakan perasaanku padanya. Namun yang kulakukan justru memperlebar jarakku dengannya. Aku tak tahu apa yang aku cari. Apa yang sebenarnya sungguh aku harapkan? Barangkali yang sungguh-sungguh kuharapkan adalah kesungguhan dia padaku, dalam sebentuk pernyataan dan janji. Dalam hati kecilku yang terdalam, aku bisa merasakannya. Hatinya masih tertera nama perempuan itu sedemikian rapi. Aku memahami itu dari lagu-lagu yang dia dengarkan. Aku mengetahui itu sebab intuisiku mengatakannya. Ataukah aku hanya dipermainkan oleh pemikiranku saja? 

Mungkin saja. Pemikiranku sedemikian egois. Aku membuat berbagai keputusan sepihak. Menyakiti diriku sendiri. Tidak melibatkan dia sebagai subjek utama dari tindakanku. Impulsivitas yang di dasari oleh sebentuk pemikiran obsesif yang kutanggung sendiri. Fucking gezzz!!! Aku memang gila. Mengapa aku mengekspektasikan untuk memahami diriku sedemikian luar biasanya. Memangnya aku siapanya dia? Memangnya apa dosa yang dia tanggung sehingga aku mengharapkan dia luar biasa untuk memahamiku??? Tindakanku sungguh kekanak-kanakan. Aku paham itu...

Aku sangat paham, bahwa aku sedemikian kekanakan... Sangat paham...

Tapi aku tidak tahan untuk selalu memiliki keinginan terkoneksi dengan dia. Aku tidak tahan dengan kebutuhan "sangat menginginkan dia". Aku tidak tahan jika kebutuhanku ini kemudian hanya digunakan untuk menambal egonya yang terluka karena perempuan itu. Aku tidak tahan dengan kemungkinan dia tidak memiliki perasaan yang sama besar denganku. Aku tidak tahan untuk selalu bingung dan menerka-nerka segala bentuk ambiguitas sikapnya. Aku tidak tahan selalu mempertanyakan sikapnya. Aku tidak tahan dengan diriku yang sedang sangat membutuhkannya... Sebab aku takut tidak bisa mengontrol diriku dalam kondisi yang sangat menginginkan.

Itu menakutkanku. Kebutuhan yang sebesar itu menakutkanku. Kebutuhan akan sebuah ekspektasi itu menakutkanku. Semuanya menakutkanku. Seperti seolah memiliki impian, saking indahnya, menjalani impian itu sedemikian menakutkan.

Penghambaan atas nama cinta. 



Senin, 26 Maret 2012

Dear Y




Ketika aku menulis ini, aku telah mengalami bermalam-malam tanpa tidur. Mataku tak bisa terpicing sekalipun. Nyalang dalam gelap. Ketakutan menjawab berbagai macam yang melintas di kepalaku. Aku merasa sedemikian "sakit" memikirkanmu. Dan benakku sedemikian obsesif dengan kamu. Dan itu menakutkanku. Itu sangat menakutkanku. Aku merasa ada seorang alien yang tinggal dalam diriku dan mensentak-sentak ingin keluar. Kamu dan perasaanku padamu adalah alien itu. Ruang yang sedemikian penuh, dan meluber menggenangi lainnya. Itu menyakitkan Y. Sangat. 

 Aku kian hari kian lemah. Aku pikir aku tak sanggup bertahan. Pilihanku hanya dua. Jika aku tak mengatakan padamu. Lebih baik aku menjauhimu dengan cara ekstrim. Aku tak bisa bertahan. Aku nggak sanggup. Katakan aku pengecut. Memang. Aku sangat pengecut dan aku takutan. Apakah aku tidak menginginkanmu? Ya, aku sangat menginginkanmu. Tapi bagaimana apapbila engkau tak cukup merasakan hal yang sama. Untuk apa? Untuk apa aku mengatakan semua. Yang tersisa kemudian hanya luka. 

Aku sudah 28 Y. Jam biologisku berdetak kencang. Aku punya prioritas-prioritas dalam hidup yang harus kugapai. Aku ingin menata hidupku lebih baik. Jika kamu memang bukan pemberhentianku, maka sebaiknya aku harus segera mencari yang lain. Hingga aku betul-betul berhenti. Ya, aku selalu berlari. Aku melakukannya pada semua laki-laki. Kadang aku sangat berharap, aku dicintai saja. Sebab konsekuensi mencintai bagiku nampak sedemikian menakutkannya. 

Aku harus menjauhimu Y. Apapun konsekuensinya. Aku tak bisa berada dalam kondisi terombang-ambing seperti ini. Aku punya kehidupan. Jika kamu tak ingin menjadi bagian dari hidup itu, maka janganlah masuk. Jangan mengetuk. Melangkah saja, melangkah saja. Pergilah saja. Pergilah sejauh yang kamu mau. Jauhi diriku. Tinggalkan semuanya tepat disitu. Aku akan mematahkan hatiku sendiri dan berlalu dari kamu. Aku akan menyakiti hatiku lagi. Aku bisa melakukannya sekali. Aku akan melakukannya lagi. 

Jadi, sebaiknya begitu. Keputusanku telah bulat. Suatu saat akan datang lelaki, mungkin bukan kamu... Akan datang lelaki lain yang menjadi alasan mengapa hubungan denganmu ini tak berhasil. 


R