Rabu, 28 Maret 2012

Apakah kamu pernah rasa sakit yang manis?



Mungkin seperti rindu yang serupa lintah. Mengeram erat di kulit, menghisap darah, menebar serum racun di dalamnya. Rindu yang membuatmu habis kata. Hilang napas. Hingga saat kau menghirup bau hujan, bahkan bakteri petrichor serasa meresonansikan sebuah nama. Atau rindu yang sedemikian tenang seperti gunung api di kedalaman lautan. Ada namun tiada. Mengapi namun sedingin lautan...


Ada sakit yang manis dalam dadaku. Seperti sakit saat aku merindukanmu.Mengetahui engkau mungkin... sekali lagi mungkin, merasakan hal yang sama. Dan saat itu, kita berada di tempat yang jauh. Aku tak sanggup memupuskan jarak menemuimu. Jadi aku akan duduk di kursi di gelapnya ruang tanpa cahaya. Membiarkan roh rindu mendekapku erat-erat. Aku kesakitan. Seperti ibu laba-laba yang membiarkan dirinya dimakan oleh anak-anaknya saat hari penebusan.


Sebaliknya kamu yang hanya mampu berdiam dengan jarak, menyisir gerimis di gelap malam. Sebab aku menitipkan rindu pada hujan yang mengguyur atapmu. Kamu tertidur lelap, dan menghitung satu-satu rintik yang tempias di atap. Serupa itulah rindu kita...


Saat-saat itu manis.
Tidakkah kau rasa.
Manisnya melebihi gula, merancap di lidah
Mungkin juga terlalu manis, membikin kita diabetik.


Seperti rindu yang aku rasa buat kamu. Saking sangat manisnya hingga membikin ngilu...


Tidak ada komentar: