ONE FINE DAY
Aku merasa siang itu kalo ada orang keabisan elpiji ato minyak gas, tapi pengen goreng telur. Dia bisa keluar rumah tinggal taro tuh penggorengan di bawah sinar matahari. Tunggu bentar, entar mateng deh tuh telur.
Aku merasa siang itu kalo ada orang keabisan elpiji ato minyak gas, tapi pengen goreng telur. Dia bisa keluar rumah tinggal taro tuh penggorengan di bawah sinar matahari. Tunggu bentar, entar mateng deh tuh telur.
That day truly damn hot. Keringatan. Lengket. Udara kering. Nganggur lagi. Kombinasi yang bisa bikin aku bosen. Kamarku bukan lagi tempat menyenangkan alias terlalu sumpek dan sesak. At last, aku memutuskan keluar nyari tempat ngisis sekaligus cari bakso. Kupacu motorku sekencang mungkin, melepaskan penat yang kerasa di ujung ubun-ubun. Aku sampai ditempat bakso langganan makan bareng Arief, my-ex. Aku bukannya pengen inget-inget dia lagi, tapi aku cuman pengen makan aja disitu. Its truly "Me Time".
By the way, busway. Lagi enak-enaknya menghikmati suasana. Datang seorang laki-laki setengah baya, dandanannya dandy, mirip eksekutif gitu. Kemeja garis, celana khaki. Pake SUV, dan rolex di tangan kiri. HP Comunicator gak lepas dari tangannya, dia selalu kontak dengan seseorang lewat Hpnya. Ngeliat rautnya sih rada gawat bin genting gitu. Btw, he's truly smells good. Hehehehe...
Gak lama datang, ibu-ibu. Dandanannya sih sederhana, tapi jelas ada selera disana. Gaun one piece, sepatu sol biasa. Anggun. Datang naik Supra Vit. Jangan bayangkan kayak tipikal ibu-ibu aristokrat yang mirip sama Julie Andrews ”The Sound of Music”, atau emak seksi Sophie Marceau. Dont. Ia lebih mirip ibu seorang anak yang beranjak awal dewasa, kader aktif di PKK, aktif di Posyandu, PAUD. Tipikal perempuan middle low tapi pinter yang bisa kita temui setiap hari ketika mereka belanja di pasar tradisional, sembari mikir gizi buat anak, yang ramah sama kantong. Yup, those kind of woman.
Seketika si perempuan menampakkan diri, wajah laki-laki itu sedari tadi nampak kusut nan sumpek, dalam sepersekian nano detik kemudian mencuri sebagian kecerlangan sinar matahari yang memapari riak sungai. Auranya mengalahkan silaunya deretan lampu neon Las Vegas, mungkin.
Tapi yang membuatku mendadak keselek biji bakso dari pemandangan itu adalah kesadaran yang menohokku tiba-tiba: they were in love to each other. Aku langsung mengerti. Kemudian nyeri. Aku sama sekali gak kenal mereka. Entah intuitif. Entah naluri. Entah aku cuman kegedean rasa aja. Sok dukun gitu. Tapi aku bisa merasakan apa yang sedemikian tumpah ruah pada mereka.
Dalam segala ketersendatan dan ketakutan yang menumpuk-numpuk, mereka bersua. Walaupun tampak malu tapi mau, mereka merajut asa. Merasa bebas sekaligus terhalang. Dan bagi yang melihat mereka, tak dapat dipungkiri betapa cinta tumpah ruah. Aku mendengar pembicaraan mereka. Tentang istri dan suami, tentang anak-anak mereka, justru pembicaraan tentang “mereka” tak sanggup terucap oleh kata. Dan ini adalah nyeri yang tak terperi.
Aku ngeri membayangkan jadi mereka. Saling cinta namun tak dapat bersama. Aku pernah mendengar pepatah yang menyatakan “One words which frees us of all weight and pain of life : that word is love.” Melihat mereka berdua, aku jadi ingin memaki-maki…orang goblok mana yang menciptakan pepatah itu. Heeeh...mana orang yang bikin pepatah bloon kayah gituh!!!!. Sebab, cinta mereka berdua tak membebaskan, tapi justru jadi belenggu. Persuaan justru jadi perasaan bersalah pada istri, suami dan anak-anaknya. Apalagi sepotong cinta itu jadi tabu.
Siang itu mereka ngobrol dengan sopan tentang pekerjaan dan segalanya, tapi bukan tentang cinta. Tampaknya kaplingan otak di regio cognisi mereka paham bahwa itu topik sensitif. Jadi cukup hanya diam. Mungkin, konsep cinta mereka ibarat bau parfum di udara. Wanginya mampu ditangkap neurosol faktori indera penciuman, namun sungguh maya untuk dipegang. Im imagine, mungkin dalam ruangan mereka hanya mampu memandang, kemudian mencukupkan diri untuk diam. Kendati rindu menggelombang berbuih-buih dan memasang, namun cukup dalam bendungan. Bara api rindu berkeretak memanas, tapi hanya dalam sekam.
Dalam keliaran imajiku, aku bertanya-tanya apakah mereka pernah bersebadan?. Tampaknya tidak, mereka berdua tampak sebagai seseorang yang memegang teguh sebuah janji. Tapi siapa yang dapat menakar dalamnya hati?. Mungkin saja mereka telah bersebadan dalam simulacrum pikiran. Mereka bersebadan dengan pasangan,tapi meminta lampu dimatikan, agar saat mereka memegang raga lainnya, otak mereka memproyeksikan bersebadan dengan orang yang dicintainya. Organsme di fantasi aja. Tak perlu OHP atau laptop super canggih. Cukup pejamkan mata dan bayangkan saja. Betapa Tuhan menciptakan sarana paling ambigu juga : otak manusia.
Setelah mencuri-curi hampir sejam, tanpa sempat menyentuh makanan yang terhidang… soalnya cuman ada bakso dan es degan siyyy. Mereka pulang. Si lelaki memakai SUV, dan si perempuan dengan Supra Vit-nya. Tidak ada cipika-cipiki ataupun ciuman di dahi. Mungkin mereka malu. Atau mereka takut. Atau mereka sengaja memilih begitu. But the point is, its doesn’t happen. Mereka berlalu menyisakan aroma parfum yang tertinggal di udara. Aku tahu, sebab aku suka membaui tubuh orang-orang sekitarku. Hahahha. Mungkin mereka pulang hanya membawa kenangan akan persuaan, mungkin juga janji untuk persuaan berikutnya.
Dan aku… aku masih tertinggal di situ, entah mengapa aku memilih tak segera beranjak. Bukan karena keenakan juga. Pak bakso-nya sendiri juga uda rada empet pengen nyepret gitu, soalnya uda selesai makan gak pulang-pulang. Ah bodo amat. Hehehehe. Aku masih pengen merasakan suasana yang ditinggal mereka berdua. Sembari membayangkan yang nggak-nggak. Halah….
Aku jadi ingat, lagunya Ungu “Kekasih Gelapku”. Bukankah nasib mereka 11-12 kayak gitu ya?. Entahlah… sebab yang kurasakan lagi-lagi nyeri dan ngeri. Jadi geli-geli gitu rasanya. Nyeri merasakan perasaan mereka. Ngeri membayangkan jadi mereka. But, aku juga gak berani berharap mereka untuk sama-sama merajut cinta dan membutakan diri dari segalanya. Atau mungkin aku yang terlalu naïf, sebab kalo aku cinta ma orang, isinya devosi melulu siy, hehehe......
Bagaimanapun… cinta adalah sesuatu yang hanya bisa kita terima.
We don’t even know how it come....
Where it start....
Why we love to each other....
5 W + 1 H. Kita gak punya jawaban dari semua pertanyaan itu. None. Huge zero. Its fucking damn mystery yang kadang kita amini, kadang kita maki juga. Aku gak tahu, seberapa jauh cinta mencengkeram dada mereka berdua. Aku juga gak tahu seberapa kuat daya tahan mereka untuk tetap bertahan memegang sebuah “janji”. Atau bisa saja cinta mereka adalah devosi. Isinya memberi dan memuji melulu. Tanpa birahi. Tapi seusia mereka???… itu juga utopia. Au’ ah lap….
At last, aku beranjak pergi dari tempat itu, membawa pulang semua nuansa yang ada. Dari spion aku melihat Pak Bakso udah mengamini kepergianku. Hehehe. Sembari menikmati naik motor dan angin sore yang lembut… aku kayaknya gak penting deh, untuk menafsir ataupun menghakimi apa yang mereka rasakan. Walaupun aku fucking damn curious with that.
Buat mereka jelas : tak cukup hanya cinta untuk bisa sama-sama. Buatku : aku gak ngeri ataupun nyeri dengan cinta, walaupun aku percaya bahwa keberadaan unconditional love does exist. Tapi itu khan pilihan juga. Cinta boleh datang mendadak sekonyong-konyong koder gak bisa disangka ataupun diduga. Tapi asmara jelas harus resiprokal agar sebuah hubungan berjalan. Nah, guys disinilah pilihan itu dibuat.
I had my choice. And you….