Kamis, 29 Januari 2009

CINTA DALAM SEPOTONG SINGKONG

01.35 dinihari, dan manusia masih tertidur dalam pelukan malam. Aku baru saja pulang kerja, badan penat, pikiran lungkrah, tak ada makanan di atas meja, padahal perutku keruyukan kelaparan sedari sore. Aku memilih tak makan terlebih dahulu, karena aku pengen sekali makan di rumah, sembari nonton TV, pake daster, makan pake tangan, walaupun dengan konsekuensi aku hanya akan ditemani keluargaku yang sedang pesta pora di pulau kapuk.
Tak ada makanan di meja. Ya sudahlah, nasibku. Hehehe. Aku menghidupkan TV dan menemukan salah satu saluran TV swasta menayangkan film barat, aku menontonnya sembari mengakal bahan makanan yang ada di kulkas untuk mengganjal perut. Yang tersisa hanya sebakul selada serta kawanan cabai. Ya sudahlah, aku menggoreng nasi yang tersisa di meriahkan oleh kawanan selada yang menggunung.
Sedang asyik makan dan nonton TV, papaku terbangun. Ternyata dia ngompol. Tapi tak tahu bagaimana mengatakannya, ia hanya membuat suara untuk menarik perhatian orang sekelilingnya. Sejak divonis demensia vaskuler oleh dokter setahun lalu, yang mampu dilakukankannya hanyalah berbaring di dalam kamar, menikmati dunianya yang tak terjamah olehku. Oleh ibuku. Oleh kami sekeluarga.
Aku menyapanya, mata tuanya tersenyum padaku. Aku mencium keningnya. Aku mengatakan ”Aku makan dulu ya pa, ntar aku gantikan. Aku lapar...” ia hanya mengangguk-angguk entah mengerti atau hendak mengatakan yang lain. Ia meraba-raba ke bawah bantalnya, dan... ditangannya yang terulur padaku, ada sepotong singkong keju bekas gigitannya...

Seketika hatiku rebah.
Memoriku melesat saat bertahun-tahun yang lalu.

Papaku adalah papa yang romantis, ada sebuah momen yang masih kuingat hingga kini, momen itu mungkin bukan momen paling spesial diantara beragam momen bersama papaku lainnya, namun ”perasaan” yang tertinggal itu, yang membuatnya sedemikian berarti. Aku baru berusia 6-7 tahun mungkin. Hari minggu, dan aku tak jua mau bangun pagi. Ia berkali-kali menggangguku, dengan menggoyang-goyangkan kasur tingkat yang kutempati bersama kakakku, menowel-nowel pipiku, sampai aku bangun dalam keadaan kesal... dan menemukan manisan...

Kesalku melenyap.
Hatiku demikian hangat. Menggembung, melesat oleh rasa senang seperti balon yang baru saja dipegas selama sepersekian detik oleh pompa kebahagiaan.
Ketulusannya menyentuhku telak. Menundukkanku yang pemberontak.

Kelak. Ketika aku dewasa, aku selalu mengingat momen itu bukan pada peristiwanya, namun pada bagaimana sebuah ”kejutan kecil” ternyata memiliki kemampuan menimbulkan sebuah kebahagiaan. Kebahagiaan itu seharga Rp. 25,- saja. Manisan yang diberikan oleh papaku. Begitu juga sepotong singkong keju yang disimpannya dibawah bantalnya... untuk aku..
Aku menerimanya dengan napas yang tercekat oleh tangis, sementara ia tersenyum terkekeh-kekeh senang karena aku menerima pemberiannya. Rautnya lucu dan tampak puas karena ia melihat wajahku yang juga tertawa. Tertawa sembari menangis tepatnya. Dinihari buta, dengan hati kami saling berbicara, setelah sekian lama kami jarang bersua. Aku yang terlalu sibuk bekerja, dan dia yang meninggalkan ruang hampa di dada.
Dan betapa aku menyadari, aku sungguh-sungguh sangat merindukan sosok lelaki itu. Papaku. Dia yang ketika kecapekan sepulang kerja, ternyata menyempatkan dirinya mengantarkanku ke toko buku, hanya supaya aku bisa membaca komik ”Candy-Candy”. Ia yang membelikan buku pertamaku. Ia yang mengajariku membaca dan menulis. Ia yang mengajariku naik sepeda roda dua kemudian motor. Ia yang ketika sudah terkena stroke masih mengantarkanku mengurus SIM pertamaku. Ia yang selalu mengambilkan raporku. Ia yang mengajariku menggantikan busi motor yang aus. Ia yang mengajariku cara mengganti sakelar lampu yang putus. Ia yang mengajari bahwa campuran antara semen dan pasir untuk tembok adalah 1:3.

Betapa segalanya demikian berarti ketika itu ”menghilang”. Papa memang masih ada bersama kami. Alhamdullilah, semoga Allah selalu menjaganya dan memberinya usia panjang untuk menyaksikan anak-anaknya melalui berbagai pijakan hidup. Aku ingin papa melihatku ketika aku memakai toga, melihat anak-anaknya menikah. Melihat anak-anaknya melalui setiap pijakan hidup. Kendati ia mungkin tak mengerti, karena demensia vaskuler yang merampas produktivitasnya. Namun aku percaya, nun didalam sana, dalam wajah hatinya yang paling terang, akan selalu ada nama kami. Seperti momen yang sangat jarang ditampakkannya padaku: sebentuk ketulusan dalam sepotong singkong. I Love U Papa. Much. Always.


Yours,

Rizka

Selasa, 27 Januari 2009

CINTA PUTIH

CINTA PUTIH

Kamar Rumah Sakit, 23.32

“Kita tak akan pernah tahu pada siapa kita akan jatuh cinta.
Cinta bukanlah pilihan. Ia adalah napas dan hidup. Sesuatu yang tak akan pernah kita jamah misterinya.”


Orang yang memiliki penyakit jantung, entah mengapa selalu tampak seperti orang yang sedang dirampok habis-habisan martabatnya. Kamu yang terlihat selalu tabah dimataku, dulu. Sekarang kamu terbaring, dengan berbagai macam selang dan cairan berlomba-lomba mengarusi darahmu. Suara AC dalam ruangan ini berdengung pelan. Menidurkanmu dalam kesejukan buatan. Sementara aku disini dipulung oleh perasaan tak terjemah. Antara tersanjung dan terluka. Tersanjung untuk sesuatu yang kuketahui dengan pasti, terluka untuk sesuatu yang kuketahui baru saja. Betapa ironisnya keadaan yang kamu alami beberapa hari terakhir ini. Saat ini aku merasakan apa yang kamu rasakan, walaupun tak sama. Sebab, aku tak akan pernah bisa berada ada posisimu, dan menjalani apa yang kamu jalani, merasakan apa yang kamu rasakan, tersakiti oleh apa yang kamu lihat, terkhianati oleh apa yang tak kamu ketahui: keadaan, situasi, harapan, cinta. Sesuatu yang diluar jangkauanmu.

Lelaki itu menggenggam tangan yang dingin. Diam selalu menjadi pilihanmu, begitupula kamu kini, sosokmu terbaring dalam diam, tapi aku yakin kamu tahu aku di sini. Seyakin sore yang mulai jatuh pada pelukan malam, dan gerimis Desember gemerecak mengurap udara. Aku ada disini, menggenggam tanganmu, berharap kelopakmu matamu terbuka, engkau sadar untuk mendengarkan apa yang kukatakan. Tapi lebih baik kukatakan sekarang ketika engkau melela di alam tak terpeta. Sebelum aku meninggalkanmu. Menjalani apa yang kini menungguku.
Pasar pagi, 09.34

Lokasi pemotretan Pre-Wedding itu di pasar becek. Mempelai wanitanya memang tak umum dalam memilih tempat. Tapi konsepnya adalah Street Romance, maka ini adalah sesi pemotretan yang paling ribet. Ditengah jam pasar yang ramai, pencahayaan yang sulit, dengan ratusan orang yang lalu lalang beriringan dengan wajah penasaran dan suitan-suitan yang tak jelas siapa. Ini adalah tantangan. Kedua calon mempelai tampaknya demam panggung juga. ” Khairra, yang mesra dong, tapi tetep santai. Aku gak dapet soul-nya nih!!!. Juned, siap ya. Bara kepalamu lebih dekat lagi ke Khairra? Nah, gitu. Oke, all set? One, two…three.” Perempuan itu mulai menempatkan tangannya pada shutter, mengatur fokus dan diafragma. Menghela napas dalam sepersekian detik dan, membidik. Click!. Click!. Click!. Dan berkali-kali lagi. Kamera digital bersicepat merekam gambar, secepat tangan lentik menekan tombol shutter.

Merangkum nuansa. Menguraikan kata tanpa bicara. Membelai tanpa menyentuh. Membaui tanpa mendekat. Merekam ironi, sembari bermimpi.

Mimpinya tak muluk, hanya berjarak dua meter kurang darinya. Tetapi tetap saja, itu tak mungkin baginya. Ia mengalihkan matanya dari jendela bidik di kamera. ”Oke, that’s all for today.” ucapnya keras mengalahkan keramaian pasar. Wajah lega tampak dari kedua calon mempelai. ” Gila, aku gak ngira, bakalan seribet ini!” Celetuk Khairra ceria. Lelaki disampingnya mengawasi dengan tatapan matanya yang tajam.
“Tapi ini khan konsep kamu yang bikin?.” Rautnya menggoda
“Emang sih, tapi ini agak gila juga, aku jadi demam panggung. Hehehe”.
”Tapi kamu cukup natural kok” Sela Rana. Seketika mata Khairra berbinar, seperti bola bohlam 1000 megawatt.
”Ran, boleh lihat hasilnya bentar nggak?.” Rana memberikan kameranya.
“Itu masih mentah, entar di studio aku olah lagi, pasti lebih oke.”
Harum. Aftershave-nya baunya harum. Bahkan dalam jarak ini bau tubuhnya terasa enak. Pheromon-nya cocok untuk hidungku. Lamun Rana, ia mengemasi alat-alatnya. Seandainya…tapi seandainya itu percuma Rana!. Cetus bathinnya memintas khayalan. Tapi, mengapa lobang kawah di dada ini terasa sangat nyata?. Mengapa pula, mataku harus buram seperti ini setiap kali melihat kemesraan mereka?. Rana, Rana, percuma kamu sudah tahu apa yang harus kamu lakukan. Benaknya melayang.

Ya, karena itulah : Aku sudah tahu apa yang harus kulakukan. Maka diam menjadi pilihan.

Siapa yang menyangka akan seperti ini. Tidak Rana. Tidak Khairra. Tidak juga Bara. Ketika Khairra mengabarkan akan menikah dan Rana diminta jasanya untuk memotret, gadis itu serasa mendapatkan kesempatan. Studio foto yang dikelolanya masih baru, dengan relasi Khairra yang luas ia berharap akan mendapat order lebih banyak lagi. Mereka janjian untuk membicarakan konsepnya bersama, sekaligus akan mengenalkan Rana pada calon suaminya. Di telephone, Khairra tidak menyebutkan namanya, hanya mengatakan calonnya adalah pengusaha rekanan ayahnya. Rana, tak ambil pusing siapa calonnya, yang terpenting baginya adalah ia mendapatkan order besar untuk Studio foto yang baru dirintisnya setahun lalu.

Namanya Bayu Ambara. Dulu ia dipanggil Bayu. Sekarang orang-orang memanggilnya Bara. Rana mengenalnya sebagai Bayu. Khairra mengenalkannya mereka dengan nama Bara. Malam itu hujan, dengan petir yang saling menyambar. Rana tak pernah menyangka, petir bisa menyambarnya di dalam rumah. Hanya saja, dengan cara yang berbeda, dan sama sekali tak diduga.
“Bayu Ambara. Bara.” Ya, aku sudah tahu nama lengkapmu.
“Meutia Rana. Rana.” Genggamannya erat, seerat yang diingatnya. Tapi matanya tak menyiratkan ia mengenalku aku. Pikir Rana. Tapi apa yang diharapkannya? Ia sama sekali tak seharusnya punya ekspetasi apa-apa. Bayu/Bara, bahkan sama sekali tak tampak mengenalnya. Bagi dia, dia cuman Rana teman Khairra yang akan memotret pernikahan mereka. Bagi Rana, Bayu/Bara adalah penyelamatnya, atau orang yang tanpa sengaja mengulurkan tali di tengah pusaran keputus asaan Rana. Cintanya yang hilang. Itu sudah lama berlalu, hampir 10 tahun berselang, pantas bila Bara tak lagi mengingatnya. Lalu apa yang diharapkannya?. Rana tahu, ia tak bisa berharap banyak.

Malam itu mereka membicarakan konsep dan tekhnis yang akan digunakan untuk foto Pre-Wedding mereka. Hujan diluar menyisakan gerimis. Dingin. Tapi tak ada yang menyangsikan kehangatan yang terpancar dalam diri Khairra dan Bara. Tak perlu api untuk menghangatkan ruang. Tak perlu lampu untuk melihat jelas. Cukup maksimalkan akomodasi hati untuk menangkap apa yang telah tumpah ruah dari kedua. Cinta itu indah. Bagi mereka. Bagi Rana, cinta adalah kehilangan sekali lagi. Sesak. Pengap. Sakit. Oh, mungkin ini rasanya bila patah hati. Pikirnya muram. Malam itu, sekali lagi ia merasa dikhianati oleh takdir. Mungkin aku memang tak boleh mencintai?.

Rencananya memang begitu, ia tak berharap akan mencintai lagi.

Ayah dan ibu. Lingkaran cinta pertama yang diharapkannya, pupus dalam 3 kali ketokan palu di pengadilan agama. Keduanya memposisikannya sebagai beban, ketika masing-masing hendak melangkah untuk hidup yang baru. Ia merasa seperti bisul di pantat yang menyiksa sekaligus memalukan setengah mati, hingga harus dipencet sampai ke akar-akarnya, atau noda jelaga di gaun pengantin yang harus segera dienyahkan sebelum hari-H. Perasaan tak diinginkan itu hampir merampas nyawanya. Jika sakit jantung bawaannya masih tertanggungkan, tapi ada sakit lain yang lebih tak mampu tertanggungkan olehnya. Tak dicintai. Namun, kehadiran Bara mungkin adalah cara Tuhan mengatakan padanya bahwa Ia ada dan masih mencintainya.
Setiap istirahat sekolah ia selalu ke sana. Roof top sekolahnya, sembari mengamati apa-apa yang ada di bawah. Hari itu ia juga kembali ke sana.

Tapi hari itu berbeda.

Benaknya lelah akut. Putus asa. Gerimis dan mendung gelap memuramkan suasana pagi. Ia berdiri di bibir tembok pembatas, menatap aspal dari atas gedung 6 lantai. Gerimis menerpa tubuhnya, dan angin dingin menampar wajahnya. Benaknya kosong, sekaligus penuh. Beginikah rasanya bila orang akan menghilangkan nyawanya sendiri. Sesak. Sakit. Tapi yakin. Ia merentangkan tangan…
“Wah, kamu berani juga ya berdiri seperti itu. Aku sih phobia ketinggian” Sebuah suara menyapanya tanpa pretensi. Serentak ia menoleh, dan mendapati sepotong senyum yang tulus. Rana berdiri terpaku. Anak lelaki itu mengulurkan tangannya, genggamannya erat. Entah mengapa Rana menyambutnya. Ia turun dari bibir tembok pembatas. Kenapa aku mau aja diajaknya turun?.
“Kamu siapa?.”
“Aku gak kenal kamu, kamu juga gak kenal aku. Tapi aku pengen kasih mawar putih ini buat kamu. Kamu gak banyak cerita tentang dirimu tadi di acara ”If U Knew Me”. Maka dari itu, kurasa kamu yang paling tepat untuk nerima mawar ini. Aku peduli sama kamu. Semoga harimu menyenangkan.” Anak lelaki itu berlalu, tanpa tahu apa yang telah diperbuatnya telah menyelamatkan Rana. Ada yang mempedulikannya.

Rana merasa diselamatkan.

”Mbak Rana...Mbak Rana, Mbak.” Colekan Juned di pundaknya memotong Rana yang berkubang dalam kenangan. Rana tersentak. ”Ampun Mbak Ran, lagi nglamunin siapa sih khusyuk banget. Udah di tunggu tuh sama Mas Bara, Mbak Khairra mendadak ada panggilan ke kantornya, Mbak pulang diantar Mas Bara. Tripod ama alat-alat lainnya udah aku packing kok, aku langsung ke studio.” Rana mengangguk singkat, menggumamkan terimakasih pada asistennya. Juned mengawasi punggung Rana yang berjalan menjauh. Dahinya berkerut, ada apa sama Mbak Rana, gak biasanya dia semuram itu. Tapi boss-nya itu selalu penuh misteri.

Ironisme yang tak kamu tahu

Lagi-lagi gerimis. Pikir Rana sembari mengawasi lalu lintas di luar jendela yang mulai padat. “Kata Khairra, SMA kamu dulu di Santa Angelo ya? Aku juga pernah sekolah di sana lho, waktu ayahku ditugaskan di sini. Tapi aku cuman 4 bulan disana. Makanya aku sama sekali gak pernah kenal sama kamu.” Tapi kamu menyelamatkan aku.
“O ya, tapi waktu SMA aku emang gak menonjol kok.” Ucap Rana mengambang. “Pantes aja, kamu gak kenal aku.” Tapi aku sangat mengenal kamu, lebih daripada yang kamu tahu.
”Dunia emang sempit ya Ran?.” Bara tersenyum. Rana mengangguk pelan. “Ya Bara… dunia emang sempit.” Sebab dunia di hatiku hanya berisi kamu.
Bila jalinan takdir, ternyata memotong harapanmu. Apa yang akan kamu lakukan?. Itulah yang kujalani dan kurasakan sekarang. Aku menyimpan sosokmu dalam banyak ekspresi, terangkum dalam satu album. Sekaligus aku menyimpan harap, suatu saat aku bisa bisa ketemu kamu lagi, hanya aku tak menyangka bila menemukanmu juga sekaligus kehilanganmu.
”Kenapa kamu pindah dari Santa Angelo waktu itu?.” Tanya Rana tiba-tiba
“Oh, ayah pindah tugas lagi ke Bandung. Ngomong-ngomong, apa semua fotografer selalu sediam kamu? Seolah-olah pikiranmu gak ada disini?.” Rana tersenyum.Bara, diam bagiku adalah pilihan.
“ O ya, nggak juga kok. Aku memang selalu serius seperti ini. Ngomong-ngomong juga, aku jadi ingat sesuatu. Kayaknya dulu aku tahu kamu. Tapi bisa aja itu bukan kamu.” Hatinya menggemuruh. Harapnya membumbung.
”Aku dulu biasa dipanggil Bayu. Mungkin kamu tahu aku dengan nama itu. Tapi di rumah, aku dipanggil Bara.”
”Oh, pantas. Kalo gitu itu beneran kamu. Kamu inget acara ”If U Knew Me” nggak? Kamu ngasi aku mawar putih waktu di roof top sekolah….” Ingat Rana, lelaki di sebelahmu ini adalah calon suami temanmu. Rana menggigit bibirnya, menahan desakan kata yang hendak meluncur.

” Ya ampun, jadi cewek itu kamu Ran?.” Bara menatapnya sekilas. Rana mengangguk mendegut ludah. “Iya, itu aku.” Dan kamu menyelamatkanku. Tapi, kamu sekarang akan kawin dengan temanku. Jeda. Mobil Bara berbelok ke kompleks perumahan Rana.
“ Ternyata dunia bener-bener sempit ya. Tapi kamu sekarang beda banget sama yang dulu.” Katakan Bara, apa yang kamu ingat tentang aku. Katakan apa yang membuatmu memutuskan memberiku pertanda, memberiku harapan. Menyelamatkanku?. ”Beda gimana maksudnya?.”
” Yah, gimana ya. Pokoknya bedalah. Kamu dulu tampak muram banget. Sekarang sih kayaknya masih kayak gitu. Tapi keliatan lebih matang aja. Usia mungkin ya. Seingatku, waktu sharing sama anak-anak di acara itu, kamu juga gak banyak cerita tentang dirimu. Kamu cuma ngomong ortumu cerai dan kamu tinggal sendirian. Trus, mendadak kamu ninggalin acara.” Jadi kamu ingat Bara. Rana tercenung lama.
“ Karena itu, aku ngasi kamu bunga mawar ke kamu. Action talk louder than words, ingat peribahasa itu?. Gesturemu berbicara lebih banyak daripada kata yang kamu ucapkan. Jadi, kurasa kamu berhak untuk dapat mawar dari aku. “ Oh, jadi itu alasannya. Sebab aku berhak. Tapi, tahukah kamu Bara, setelahnya aku menyimpan cinta buat kamu. Kamu buat aku percaya hal itu lagi. Ataukah aku hanya punya ilusi yang sengaja kupelihara?. Rana asyik melamun lagi.
“…putih khan, lambang ketulusan Rana?, jadi aku tulus sama kamu. Hehehe ...Rana?, yah dia nglamun lagi.”
“Eh, sori, gak aku cuman mikir....” Putih lambang ketulusan katanya. ”Kayaknya kamu salah belokan deh. Rumahku, dibelokan yang sebelumnya.” Seketika tawa Bara meledak, sambil mengucak rambut Rana. ” Rana....Rana, kayaknya kamu harus ngurangin hobi ngelamun kamu, uda overdosis tuh. Hehehe!!!.” Aku gak ngelamun Bara, aku cuman menikmati kesempitan yang ada. Aku menikmati kamu ada disisiku. Aku menikmati ironisme dari apa yang ku tahu dan apa yang tak kamu ketahui. Bathin Rana.

Jikalau, seandainya kamu tahu…
Jam digital diatas meja menunjukkan angka 03.09. Printer itu berdengung pelan, mencetak lembar demi lembar foto ukuran A3. Sementara album foto berukuran besar terbuka diatas meja. Rana bertelungkup di atas meja kerjanya, melepaskan sembab yang selalu mampat 10 hari terakhir. Inilah surga sempitku, diantara serakan fotomu 10 tahun yang lalu. Kamu yang sedang tertawa, kamu yang sedang berjalan, kamu yang sedang makan, kamu yang sedang duduk, kamu diantara kawan, kamu yang sedang berlatih dilapangan, kamu yang sedang diam. Jutaan ekspresi milikmu. Rana melirik serakan foto berukuran besar lainnya yang bertebaran di lantai, seolah mengejeknya. Itu kamu yang sekarang. Kamu yang sedang tersenyum, kamu yang sedang memeluknya, kamu yang sedang dipeluknya, kamu...kamu...kamu yang lain. Kamu yang berjarak, kamu yang tak mampu kujamah, kecuali lewat bidikan lensa, sebab kini kamu adalah miliknya. Rana menebah dadanya, merasakan sesuatu yang memampatkan aliran darah ke jantung dan meremas napasnya. Sejenak ia mengerang, sebelum menyongsong gelap tanpa ujung. Gadis itu ambruk dari kursinya, menimpa foto-foto Bara-Khairra.

Ketika kamu terlelap…
Monitor kecil disamping meja, berbunyi secara konstan, memberitahukan pesan gamblang. Lelaki itu melembari ulang album yang ada di pangkuannya, membaca pesan dari secarik kertas yang ada pada tiap-tiap halaman. Mirip caption dari masing-masing foto. Sore tadi, ia mengambil foto-foto Pre-Weddingnya, Juned memberikan semua file foto dan cetakkannya pada Bara, ketika ia hendak berlalu, Juned memberikan album foto itu. “ Ini pribadi buat Mbak Rana, tapi kayaknya Mas Bara perlu tahu.” Ucapnya singkat. Album itu sederhana, tapi sejak membuka halaman pertama Bara sudah terperangah, sebab ia menatap wajahnya sendiri, 10 tahun yang lalu. Ia merasa memasuki mesin waktu, memaksa mandelbrot otaknya mengkais-kais ceceran memori usang yang entah tersembunyi di mana.

Rana, ternyata aku juga punya rasa sama kamu. Waktu itu. Hanya saja selalu tak cukup waktu buatku mengenal kamu. Pekerjaan ayahku menuntutnya selalu nomaden, buat apa aku merajut asa, bila tak lama lagi aku akan meninggalkan semuanya. Tidakkah kau merasa akan percuma, sebab yang akan tertinggal kemudian adalah rasa sakit semata?. Aku tak jujur padamu ketika mengatakan bahwa kamu sekedar berhak menerima mawar itu. Aku ingin memberimu pertanda : bahwa aku memperhatikanmu. Kendati waktu tak pernah berpihak padaku. Ketika waktu kembali mengambil kendali dan berjalan. Rasa itu kian sublim. Mengkristal. Mengendap dalam gorong-gorong memori usang. 10 tahun bukan waktu yang pendek, dan aku terlupa bahwa rasa itu pernah ada. Tak setitik pun aku berharap kamu menyadari apa yang kurasa, asa yang kupunya. Sayangnya, aku salah.

Malam kian tua. Hawa dalam ruangan menguarkan aroma obat yang kental. Bara menggenggam tangan Rana, tangannya dingin. Tapi, tidakkah sesal itu sungguh percuma Rana?. Menyesali untuk sesuatu yang tak terjangkau olehmu, olehku, oleh kita?. Aku punya pilihan, hidup ini adalah serangkaian pilihan bukan?. Jika bagimu diam adalah pilihan, kurasa diam adalah pilihanku juga, tak perlu kukatakan alasannya mengapa, kamu lebih tahu daripada aku. Seperti katamu, kita tak akan pernah tahu pada siapa kita jatuh cinta.

Rana mendekap album itu di dadanya. Terpejam membayangkan sesuatu yang diluar jangkauan. Sejak siuman tadi pagi, tiba-tiba ia mendapati album itu di samping tempat tidurnya plus sekuntum mawar putih di jambangan. Bara. Ia yakin laki-laki itu mengunjunginya semalam, sebab aroma parfumnya masih tertinggal, baunya tipis dan samar tapi masih menjejakkan keberadaannya semalam. Ia merasa harus mengatakan sesuatu. Harus, dan tak banyak waktu lagi. Rana meraih notes kecil disamping tempat tidur. Jemarinya gemetar mengukir kata.
Ia sudah tahu mereka akan datang bersama. Bahkan sebelum Khairra tampak di ujung pintu untuk menyapanya.

” Ran, kamu kok gak ngasih kabar sih kalo kamu masuk RS. Aku baru tau dari Bara kemarin. Dari tempat kerja aku langsung kesini sama Bara!. Gimana kondisimu? Ya ampun Ran, aku jadi ngerasa bersalah, kamu kecapekan ya ngerjain foto Pre-Wedding kami? Ya ampun Ran, .....”. begitu datang Khairra langsung menggabruk Rana, rautnya pias khawatir dengan kondisi Rana.
” Khairra, aku udah gak apa-apa. Ini udah biasa, kamu ingat aku punya penyakit jantung bawaan khan? Gak usah khawatir atau merasa bersalah gitu deh. Selain ngerjain foto kamu, aku khan juga ngerjain yang lain juga. Dr. Harris sebenarnya udah warning aku untuk gak kerja terlalu keras, aku aja yang terlalu bandel. Sungguh, aku udah gak pha-pha kok. Aku cuman diharuskan istirahat aja untuk beberapa minggu.” Rana tersenyum lucu melihat raut Khairra.
“Kamu selalu gitu deh, keras kepala kalo di kasi tau.”
“Aku khan udah gede, aku tau batasanku dong!” Tukas Rana. Khairra mendelik.
“Tau batasan? Kamu udah ambruk masih ngomong tau batasan? Rana…look ya…” Handphone Khairra tiba-tiba berbunyi nyaring. “Wait!” cetusnya kesal begitu mengamati nama yang tertera di layarnya. ” Im saving by the bell. Its finish!” Seru Rana tertawa. ”Not yet!!!” Bibir khairra membentuk kata itu. Khairra berjalan ke sudut ruangan berjendela untuk menerima telephone memunggungi Rana. Bara memasuki ruangan sambil membawa seikat mawar putih lagi, dan langsung menaruhnya di jambangan. Rana memahami pesan itu.

“Gimana keadaannya Ran?.” Tanyanya sambil tersenyum. “ Better. Seperti yang kamu lihat. O ya, kamu semalam ada di sini?.” Bara mengangguk pelan. Rana mengeluarkan notesnya.
TAK CUKUP WAKTU, TAPI AKU PERLU MENGATAKAN SESUATU.
Bara mengangguk, mengiyakan. Bibirnya membentuk kata “Katakanlah”. Rana membalik notesnya.
APA YANG KURASAKAN BUKAN SESUATU YANG MUDAH UNTUK DIUNGKAPKAN.
AKU TAK INGIN, APA YANG KAMU LIHAT DI ALBUMKU MEMBUATMU TERBEBAN.
Bara tersenyum.
TAPI... YA. AKU MENYIMPAN HATI BUAT KAMU.
DAN CUKUP HANYA SAMPAI SITU.
KITA TAK BERKUASA, ATAS APA YANG TAK PERNAH KITA KETAHUI, SEBAB…
Rana membalik halaman notesnya. Bara menahan napas.
KITA TAK PERNAH TAHU PADA SIAPA KITA AKAN JATUH CINTA.
Bara menghela napas. Merasakan ada beban yang terlepas.
SETULUS HATI KUKATAKAN : AKU IKUT BERBAHAGIA UNTUK KAMU DAN KHAIRRA.
Lega. Bara menggenggam tangan Rana erat. “ Makasih Ran.” Rana mengangguk. ” Aku yang seharusnya bilang terimakasih, walaupun terlambat 10 tahun. Makasih untuk menyelamatkanku di roof top dulu.”

Di pelataran parkir. ” So, Sugar kamu uda nyelesaikan apa yang tertunda dari kalian?.” Deg. Bara terdiam menatap Khairra. Dimatanya ia hanya menemukan kerling tanya. Khairra tahu. Keningnya berkerut. “Dari mana kamu tahu, ada sesuatu yang tertunda antara aku dan Rana?.” Khairra berdecak, matanya berputar-putar lucu. “ Mmm… jawabannya mudah, aku mencintaimu karena itu aku tahu. Its so obvious dont you see?.” Bara mengangguk setuju, sekaligus takjub menyadari arti baru dari pengakuan Khairra. “Dan kamu gak cemburu?.” Godanya. “Emang perlu untuk cemburu?.” Bara menggeleng. “ Nggak Hon, nggak penting untuk cemburu.” Jeda. “ honey you know…, that’s why I love you.” Khairra tersenyum menggenggam tangan Bara. “ Kamu uda ngomong itu seribu kali.” Hangat. Ia merasakan kehangatan itu merambati dadanya pelahan.(RM)

PULANG


PULANG


Fragmen pertanda…

Matahari belum lagi mencapai tinggi sepenggalah, tapi dalam rig ini bola bundar itu menjilat-jilat bagai monster kelaparan yang rindu asamnya keringat manusia campur asinnya air laut. Dari kejauhan tampak supervisor-nya Pak Hasyim sedang bersitegang dengan Pedro, pemandangan yang jadi menu sehari-hari, terlalu lumrah, terlalu biasa.

Sembari menunggu perdebatan itu selesai, Omar mengarahkan pandangnya ke laut lepas. Ia memang mencintai laut, setengah siang ini, laut bak lazuli membiru yang teramat luas, sinar matahari yang menimpa air dalam memantulkan kemisteriusan tak terjamah. Ditingkahi camar yang terbang rendah mendekati talang nan menjulang, saling bersiutan satu sama lain memanggil kawanannya mendekat. Burung camar, entah mengapa selalu mengingatkannya pada musafir yang terbang ribuan mil dari tempat bernama rumah, seperti dirinya sekarang, dan lautan adalah tempatnya bertualang, membuktikan kejantanan. Ia merogoh sakunya mencari rokok, menimbang-nimbang, toh posisinya jauh dari lokasi drilling, lagipula Pedro tak akan melihat begitupula Pak Hasyim. Tapi, ia tak menemukan rokoknya. Ia menemukan surat itu. Surat yang dikirimkan bapaknya, mengharapkan ia pulang. Ia ingin membuang surat itu begitu selesai membacanya, tapi ia tak sempat karena suatu hal. Ia memegang surat itu, dan ingin membacanya sekali lagi sebelum membuangnya kelaut seperti surat-surat lainnya. Huruf-hurufnya yang tinggi begitu cerlang tertimpa sinar matahari yang tumpah ruah. Omar hampir tak mampu membacanya karena terlalu silau. Tak biasanya bapaknya menulis surat sampai dua lembar, biasanya cuman selembar dan itupun tak terlalu banyak bercerita, langsung pada intinya : butuh uang. Tapi surat kali ini entah mengapa berbeda, karena bapak menyempatkan bercerita tentang sanak keluarga, menyempatkan menulis sepotong rindu padanya, menyempatkan menulis harapannya agar Omar sungguh-sungguh pulang pada lebaran kali ini. Tapi bukan berarti surat itu berbeda buat Omar, karena ia tetap tak akan pulang, ia akan menunda kepulangannya, entah sampai kapan.

Omar memandang ke arah dua orang itu lagi, menunggu aba-aba Pak Hasyim untuk mengkomandoinya menurunkan alat. Samar ia mendengar apa yang menjadi penyebab ketegangan antara Pedro, si Company Man yang seringkali dijuluki diam-diam oleh kawan satu rig dengan “Geblek”.
“ Dari analisa mud logger, kita belum bisa bekerja Pak. Tekanan gas dibawah terlalu tinggi, kita memang harus menunggu.” Logat Madura Pak Hasyim yang berirama terdengar sangat sayup. Pertanda ia mulai tak suka dengan sikap Pedro.
Dari kacamata pilotnya yang Omar yakin harganya selangit, si Geblek itu menggelengkan kepala sambil mengamati sesuatu pada alat. Ia mendengus kesal. ” Bukan tugasmu memutuskan, saya yang akan cek. Pokoknya saya mau, kamu dan tim kamu siap sebentar lagi.” Ucapnya tandas.
Mulut Pak Hasyim komat-kamit ia yakin, lelaki yang sudah dianggap bapaknya sendiri itu sedang misuh-misuh. Pedro memeriksa analisa mud logger, Pak Hasyim, membenahi alat walaupun rautnya tampak setengah hati. Wajahnya tirus, berwarna tembaga dalam kelimpahan cahaya, begitupula serabut perak dirambutnya yang kian lebat. Tiba-tiba Pak Hasyim menoleh ke arahnya sambil mengerakkan jari telunjuknya miring diatas dahi. Sinting. Ia memberi pesan bahwa Pedro sinting. Omar tersenyum saja, sembari mengawasi laki-laki itu mengutak-atik alat.

Lima tahun bekerjasama dengan Pak Hasyim, Omar sudah sangat hapal gesture-gesture yang digunakan lelaki itu. Juga dengan berbagai macam triknya mengatasi Company Man macam Pedro. Lelaki itu memiliki intuisi setajam belati, dan Omar tak meragukannya bila ia mengatakan jangan melakukan logging dulu. Tapi Pedro, tetaplah Pedro yang merasa lulusan luar negeri dan merasa lebih pandai, walaupun Geblek. Pak Hasyim hampir kehabisan akal mengatasi kenekatan pria muda itu. Semalam, ketika mereka melepas lelah ia mengeluhkan perangi Pedro yang terlalu nekat, tapi itupun hanya sambil lalu, ia lebih banyak bercerita tentang keluarganya. Ia ingin segera pulang ke Madura. Ia sudah merindui tanah garam itu, ia merindui istri dan dua anak perawannya yang sudah tak ditengoknya setahun. Setiap setahun sekali memang Pak Hasyim selalu menyempatkan untuk pulang, sementara hanya Omar yang bertahan dalam mess perusahaan. Omar teringat percakapannya semalam.

“Kamu nggak pulang lagi Mar?.” Tanyanya pelan, sembari menatap laut lepas di rembang petang menyisakan rencah cahaya keemasannya.
“Nggak Pak, saya di mess saja, kayak biasanya.” Ujar Omar jelas.
“Kalo aku justru kebelet pengen pulang, aku sudah kangen sama istri dan anakku, sudah setahun aku ninggal mereka. Aku sudah kangen sama Madura. Sama asinnya udara, tanahnya yang berkapur, cuacanya yang terik, udaranya yang kering, suara adzan dari múshala reyot sébelah rumah. Keringat istriku sehabis nyawah. Kalo kamu sudah rumah tangga mungkin kamu ngerti apa yang tak rasakan. Lebaran tinggal sepuluh hari, aku pengen kerjaan ini cepet selesai, moga-moga besok tekanan gasnya sudah menurun, jadi kita bisa nurunin alat.” Omar mengamati raut muka lelaki itu, ia membaca kerinduan yang tertera sejelas gelap yang kian menangkup semesta. Ia teringat suratnya.
“Bapak saya kirim surat lagi Pak, minta saya pulang. Tapi saya kok nggak pengen pulang. Saya gak suka di rumah mau ngapain. Enakan di mess, bisa main-main.” Pak Hasyim, berdehem sebentar mendengar Omar.
“ Pulang, mungkin gak enak buat kamu. Tapi jangan lihat kamu saja, lihat orang sekeliling kamu, yang mungkin berharap pengen kamu ada. Apa susahnya sih meluangkan waktu 7 atau 14 hari dari 365 hari milikmu dalam setahun, cuman untuk sowan saja kok. Kalo saranku, kamu pulang aja. Udah lima tahun kamu gak pulang kan?. Mungkin dengan kepulanganmu ini ada sesuatu yang menunggumu. Siapa tahu?.”

Teriakan Pedro memintas ingatan Omar. Tampaknya, mereka berdua sekarang sudah bukan bersitegang lagi, cekcok itu semakin sengit. Pedro, tampak menuding-nuding pada Pak Hasyim, begitupula Pak Hasyim yang tak kalah gahar mengacungkan telunjuknya di muka lawan bicaranya.
“ Kenapa peralatan kalian tak bisa bekerja dalam tekanan tinggi seperti ini heh? Sementara milik Oil Service lainnya bisa? Alat kalian sudah kuno atau kalian tak mau ambil resiko?”. Dasar geblek, Omar memaki dalam hati. Tapi ia memilih mengigit lidahnya, bukan pada kapasitasnya ia memaki Pedro.
” Heh, Pedro pokoknya aku tidak mau menjalankan alat sampai semuanya safe. Kamu bisa membahayakan nyawa orang cong. Kamu dengar itu Pedro.” Pak Hasyim sudah benar-benar marah, tak hanya logatnya yang keluar, Pak Hasyim sudah menyebut Pedro ‘cong’ atau ‘bocah’ dalam bahasa ibunya. Pedro nampak tak sabar, ia berkata sesuatu, namun suaranya tersaput suara ombak.
” Kamu dengar tidak Pedro? Resikonya terlalu tinggi. Kamu boleh coret namaku dari kontrak ini kalau mau terus, aku tak bertanggung jawab atas apa yang terjadi.” Pak Hasyim ngotot. Sejenak mereka berpandangan laiknya harimau yang saling mengukur kekuatan. Pedro nampak sekali jika merasa terhina. ”Oke!” pungkasnya sambil mendelik. ” Saya coret nama kamu. Akan saya laporkan pada Petro.Inch apa yang terjadi.” Omar bertukar pandang dengan Fariz yang sedang pucat kebingungan dari kejauhan. Insinyur muda yang sedang dibimbing Pak Hasyim itu membasahi bibirnya yang kering tampak ketakutan. Pedro mendadak menoleh ke Fariz. ”Aku gak mau tahu, sekarang kamu yang in charge disini. Run alat itu!. Kalau tidak Petro. Inch harus ganti rugi.” Salak Pedro ganas, pada Fariz. Sementara Fariz menatap Pak Hasyim minta dikasihani. Omar tahu, lelaki itu tak akan tega memberikan beban seperti ini pada anak buahnya, apalagi Fariz baru beberapa bulan bergabung dengan Petro.Inch. Omar mendekat, berniat menggantikan posisi Fariz tanpa setahu Pedro, dan memindahkan Fariz pada posisinya. Ia melihat dada Pak Hasyim naik turun, kegeramannya nampak jelas terpeta dalam raut tirusnya.
“ Beri aku waktu menelpon head office.” Terdengar suara Pak Hasyim, yang sedikit melunak tak lagi keras, hampir seperti memohon pada Pedro.
Pedro mendengus kesal. “Tidak!.” Tukasnya tajam “Kamu sudah tak punya otoritas lagi untuk kasih perintah. Besok pagi-pagi kamu berangkat dengan chopper pertama.” Suara Pedro begitu final. Pedro menoleh pada Fariz, dengan lagak komandan batalyon yang memberi perintah pada anak buah. “Heh, kamu!. Jangan diam saja. Segera run tool itu!.” Fariz makin gugup. Pedro berteriak-teriak pada yang lainnya. Pak Hasyim menoleh ke arahku, “Cepat hubungi head office, kasih tahu keadaan kita dan analisa mud logger. Kasih tahu juga Pedro geblek itu mau ngapain!.” Omar tak jadi menggantikan Fariz, ia langsung berlari mencari telpon. Terakhir ia melihat Pak Hasyim bertukar jaket pekerja Fariz supaya tak diketahui Pedro, sementara Fariz mengambil posisi berjalan ke mulut lubang sambil menurunkan alat sensor ke liang sumur yang ratusan meter kedalamannya, dan telah dilapisi pipa besi. Liang bumi yang begitu gelap dan pekat, didalamnya manusia menggerus lempung dalam kerak bumi guna mengais fosil-fosil binatang purba yang mencair seiring waktu, juga gas yang sangat eksplosif karena tekanan yang tinggi. Omar sampai ke bilik telpon dekat kantor, ia memutar nomor telpon head office sambil menutup telinganya yang berdenging oleh berbagai keramaian. Ia mendengar Fariz berteriak-teriak menyuruh operator mengulur tambang kawat sampai dasar lorong dan bersiap menyalakan mesin.

Telponnya tersambung, tapi masih nada tunggu.

Omar mendengar deru mesin menyala, dari jendela sempit ia mengawasi kesibukan dibawah.

Dentuman itu mengaum tiba-tiba.

Anjungan tergoncang luarbiasa hebat. Omar terjerembab. Dari jendela sempitnya, ia melihat tiga tubuh terlontar ke atas seperti dipegas dengan kecepatan sepersekian detik. Jaket kuning pekerja itu berkibar-kibar dalam tingginya gas melayangkan tubuh mereka. Katup-katup peredam ledak di mulut sumur, tak mampu menahan sebagian tenaga yang merunyak ke atas, dan menjebol apapun yang ada diatasnya, termasuk alas besi tempat para buruh berdiri ikut terlontar ke udara, berikut tanda ”safety first”, kuning mencolok seolah sedang mengolok. Dalam kecepatan yang dikuasai alam seperti itu, tak ada yang sempat diselamatkan atau menyelamatkan, semuanya terpaku dalam kebekuan atau ketakutan. Tak juga ketika tubuh Pak Hasyim dan Fariz, serta satu orang buruh lainnya yang berjatuhan membentur lantai besi geladak, lalu secara estetis kemudian terlontar ke laut yang sedang bergolak dalam kemarahan menelan tubuh para kawan seperjuangan. Omar berteriak memanggil dari jendela sempit, mengiringi gerak lincah buih yang mencaplok tubuh Fariz dan Pak Hasyim dalam satu kuapan manis. Lindu membahana, anjungan berkeretak. Api melangit. Suara alarm. Pekerja di rig berlarian tak tentu arah bersicepat menuju kapsul darurat. Chaos mengambil tempat.

Mendadak, seperti datangnya anjungan kembali tenang. Menyisakan lubang besar berasap dari liang yang dalam. Manusia diatasnya kembali terpaku beku kian menyadari betapa kefanaan adalah menyekaligus dengan kerapuhan.

Ia Pulang...
Kapal yang membawanya buang sauh menjelang subuh. Setelah lima tahun, ia mencium hawa itu lagi. Hawa yang selama ini ternyata hanya mengendap tapi tak pernah terlupa. Hawa kotanya, Surabaya. Matahari masih begitu prematur, terbungkus dalam sisa selaput malam yang bercadar. Omar melangkah keluar pintu kapal, berdesakan bersama banyak pemudik lainnya. Perjalanan 5 hari itu sungguh melelahkan, tapi herannya ia tak melihat raut lelah pada wajah-wajah itu, yang ada hanya antusiasme, dan kegembiraan. Juga sebuah nuansa lain, yang memiriskan hati. Ia pernah sekali melihat pada wajah Pak Hasyim di rig pada malam terakhir itu. Manusia menyebutnya rindu, sebuah kekuatan yang melelai begitu magisnya. Sekarang ia memahami sepenuhnya perkataan Pak Hasyim, bersama ribuan orang dalam kapal ini, ia merasakan roh rindu datang meremas napas.

Sayup-sayup ia mendengar masjid mengurai pagi dengan suara adzan yang melindap dalam gelap. Omar memutus segera pulang, ia mencegat taksi pertama yang melintas dengan harga non-argo yang gila-gilaan. Sepanjang perjalanan ia mendengar tasbih dan tahmid memuja Sang Pencipta Hidup melayang-layang diudara. Lima tahun ditinggal kotanya tak banyak berubah. Hanya saja kota makin rimbun, dinaungi pepohonan dengan dedaunan yang saling menangkup, memeluk udara. Laiknya kota yang sedang berbenah, banyak mal-mal berceceran dalam jarak dekat, selain itu tak ada yang berbeda secara fisik.
Sopir taksinya seorang anak muda, usianya mungkin tak lebih dari dua lima, tetapi rautnya sudah nampak kuyu dimakan beban, mungkin ia sudah berumah tangga. Ia juga seusia itu ketika meninggalkan rumah, berbekal ijazah, ia melamar kerja dari suatu lowongan koran sebagai buruh lepas pantai, dan terdamparlah ia di rig satu ke rig lainnya. Dari laut satu ke laut lainnya. Ketika ia diterima pertamakali di Petro.Inc, ia tak merasakan apa-apa. Hanya bersyukur bisa keluar dari rumah. Sebab ia sudah tak tahan dengan bapaknya, pilihannya cuman dua, pergi atau membunuhnya. Seperti bapaknya menghisap pelan semangat hidup umi’nya dengan kesukaannya pada ‘daun muda’. Omar menghela napas. Klise. Cerita ini terlalu klise karena nampak sama dengan cerita nestapa 1001 yang lainnya. Tapi sungguh betapa, mendengar berbeda dengan mengalami. Omar menghela napas, menatap keluar jendela lagi. Tahun kemarin, saat ini yang dilakukannya mungkin tidur lagi setelah menunaikan sholat Id, tapi peristiwa yang terjadi pada Pak Hasyim dan Fariz di rig sungguh-sungguh mengguncangkan keteguhannya.
Siapakah dia, yang hanya manusia?. Yang bahkan tak bersuara ketika takdir mengambil kuasa. Tak pula ia mampu menolong kedua sahabatnya, ketika makhluk cair mahabesar bernama lautan menelan mereka berdua, dan kemudian diam. Seolah-olah tak terjadi apa-apa?. Tak menyisakan jua sepotong tubuh untuk dihantar pada keluarga yang menunggu di rumah, untuk ditangisi, untuk dikubur, dan untuk dikenang. Hanya genangan darah yang memerah, membisu dalam bau amisnya. Pak Hasyim tak sempat pulang ke Madura, tak sempat menjumpai para anak perawannya, tak sempat mendengar adzan dari musala, tak sempat mencium bau keringat istrinya sehabis nyawah. Sedangkan Fariz, ia tak sempat pamit pada Sawitri, padahal ia sudah rindu setengah mati. Seusai lebaran, pada bulan besar, ia hendak melamar. Tampaknya impian itu tak terjadi. Dan, betapa ia berharap semoga Pedro dipenjara begitu lama, hingga mencicipi neraka dunia. Hari ini, hari suci tapi ia masih tak selera untuk memaafkannya.

Sementara ia serasa ingin pulang, bukan karena ia kapok atau takut mati. Tapi karena ia takut tak sempat berpamit, ia takut tak sempat beruluk salam pada mendiang ibunda, tiba-tiba menjumpainya di atas sana. Ia takut tak sempat berucap pada bapak, bahwa ia merindukannya pula. Atau jika bisa, dan keberanian semoga masih dipihaknya ia ingin mengatakan pada dia, gadis yang kerlingnya menyilap napas, dia yang bahkan tak tahu ia ada. Mayra. Bahwa sesungguhnya ia mencintainya, sepenuh jiwa, tak peduli tepat atau tidak, ia hilang atau nampak. Bukankah cinta tak butuh banyak kata?.

Taksi berhenti didepan kampungnya, orang-orang bersiap hendak berangkat sholat Id, tetapi ia merasa ada yang aneh. Sepotong bendera putih melambai begitu jahatnya di cagak gapura kampungnya, pertanda malaikat El-maut baru saja hadir mencabut nyawa. Ia bertanya-tanya siapa gerangan yang melepas nyawa pada hari yang demikian suci ini, tak inginkah El-maut meminta cuti hanya untuk sehari ini saja?. Dadanya berdesir menggemuruh ketakutan, mengingat bahwa ia pernah begitu dekat hanya sesenti. Omar berjalan cepat-cepat, ia ingin segera sampai rumah. Ia menghitung dalam hati, di tikungan berikutnya ia akan sampai. Tapi orang-orang yang mendorong kereta keranda mendahuluinya. Tak ada wajah yang dikenal olehnya. Ia mengawasi sampai kereta keranda itu menghilang di tikungan.

Ia sampai di tikungan, ia melihat rumahnya yang bercat putih berdiri dengan megah, seperti yang diingatnya dari foto yang dikirimkan bapaknya. Rautnya pias seketika, ketika ia menyadari, keranda itu berhenti didepan rumahnya. Segera ia berlari meninggalkan bawaanya. Kenyataan yang didapatnya kemudian serasa melolosi tulang-tulangnya. Ia pulang hanya untuk menjumpai bapaknya yang terbujur kaku tertutup kain biru. Ia teringat kata-kata Pak Hasyim, ...mungkin dengan kepulanganmu ini ada sesuatu yang menunggu. Sayang, bapak tak kuat menunggu sampai ia berucap sepotong rindu yang diakui dan dibawanya sambang pulang. (RM)