Aku semalam ketempat Winda...
Gila, effortku luarbiasa banget buat cari jawaban ya. Tapi gag sebanding dengan tindakanku. BB masih off dan soak. Aku membiarkannya supaya aku bisa mencari jawaban dulu dari pertanyaan-pertanyaan untuk memantapkan hatiku. Aku maju. Mundur. Apa tetep bertahan goblok seperti seperti ini. Dipermainkan sama perasaan dan egoku. Semalam aku berpikir ulang, sesungguh-sungguhnya apa yang membuatku gag mau nembak dia. Malu iya. Tertekan iya. Sebab itu gag sesuai ama prinsipku. Kadang aku berpikir, mungkin anak-anak yang selalu netral, dan gag ambil pusing dengan nama "prinsip" itu hidupnya lebih adem ayem kalik ya. Sebab, dia nggak dipusingkan harus bertengkar dengan dirinya sendiri setiap kali harus dihadapkan dengan tindakan...
Dan nggak harus menyakiti dirinya sendiri dan gag ngerasa perlu tersakiti oleh lingkungan yang tidak cukup mengerti. Bukankah itu yang selalu aku rasakan saat peristiwa "Wiwin" itu terjadi. Aku merasa tersakiti oleh lingkungan yang kuanggap tidak cukup memahamiku. Dan aku terlalu sombong untuk memberitahu mereka apa yang kurasakan. Kubiarkan lingkunganku menghakimiku sekehendak mereka, aku tak ambil peduli dengan apa yang mereka pikirkan ttg aku. Tapi dalam hati ternyata aku kesakitan luarbiasa dengan ketidak mengertian mereka. Aku menuntut lingkunganku untuk mengerti tentang aku, tanpa menunjukkan efforts bagaimana mereka harus mengerti. Dan lebih parah lagi, justru aku memperlebar jarakku diantara mereka, membiarkan mereka semakin bertanya-tanya, tak kunjung menemukan jawaban. Adanya mereka justru berprasangka dan menghakimi.
Hmmm... Egoku memang jagoan. Luarbiasa. Menghancurkan.
Sesungguh-sungguhnya, hatiku sedang merebah. Sebab rindu ini kelewat bedebah!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar