Selasa, 27 Januari 2009

CINTA PUTIH

CINTA PUTIH

Kamar Rumah Sakit, 23.32

“Kita tak akan pernah tahu pada siapa kita akan jatuh cinta.
Cinta bukanlah pilihan. Ia adalah napas dan hidup. Sesuatu yang tak akan pernah kita jamah misterinya.”


Orang yang memiliki penyakit jantung, entah mengapa selalu tampak seperti orang yang sedang dirampok habis-habisan martabatnya. Kamu yang terlihat selalu tabah dimataku, dulu. Sekarang kamu terbaring, dengan berbagai macam selang dan cairan berlomba-lomba mengarusi darahmu. Suara AC dalam ruangan ini berdengung pelan. Menidurkanmu dalam kesejukan buatan. Sementara aku disini dipulung oleh perasaan tak terjemah. Antara tersanjung dan terluka. Tersanjung untuk sesuatu yang kuketahui dengan pasti, terluka untuk sesuatu yang kuketahui baru saja. Betapa ironisnya keadaan yang kamu alami beberapa hari terakhir ini. Saat ini aku merasakan apa yang kamu rasakan, walaupun tak sama. Sebab, aku tak akan pernah bisa berada ada posisimu, dan menjalani apa yang kamu jalani, merasakan apa yang kamu rasakan, tersakiti oleh apa yang kamu lihat, terkhianati oleh apa yang tak kamu ketahui: keadaan, situasi, harapan, cinta. Sesuatu yang diluar jangkauanmu.

Lelaki itu menggenggam tangan yang dingin. Diam selalu menjadi pilihanmu, begitupula kamu kini, sosokmu terbaring dalam diam, tapi aku yakin kamu tahu aku di sini. Seyakin sore yang mulai jatuh pada pelukan malam, dan gerimis Desember gemerecak mengurap udara. Aku ada disini, menggenggam tanganmu, berharap kelopakmu matamu terbuka, engkau sadar untuk mendengarkan apa yang kukatakan. Tapi lebih baik kukatakan sekarang ketika engkau melela di alam tak terpeta. Sebelum aku meninggalkanmu. Menjalani apa yang kini menungguku.
Pasar pagi, 09.34

Lokasi pemotretan Pre-Wedding itu di pasar becek. Mempelai wanitanya memang tak umum dalam memilih tempat. Tapi konsepnya adalah Street Romance, maka ini adalah sesi pemotretan yang paling ribet. Ditengah jam pasar yang ramai, pencahayaan yang sulit, dengan ratusan orang yang lalu lalang beriringan dengan wajah penasaran dan suitan-suitan yang tak jelas siapa. Ini adalah tantangan. Kedua calon mempelai tampaknya demam panggung juga. ” Khairra, yang mesra dong, tapi tetep santai. Aku gak dapet soul-nya nih!!!. Juned, siap ya. Bara kepalamu lebih dekat lagi ke Khairra? Nah, gitu. Oke, all set? One, two…three.” Perempuan itu mulai menempatkan tangannya pada shutter, mengatur fokus dan diafragma. Menghela napas dalam sepersekian detik dan, membidik. Click!. Click!. Click!. Dan berkali-kali lagi. Kamera digital bersicepat merekam gambar, secepat tangan lentik menekan tombol shutter.

Merangkum nuansa. Menguraikan kata tanpa bicara. Membelai tanpa menyentuh. Membaui tanpa mendekat. Merekam ironi, sembari bermimpi.

Mimpinya tak muluk, hanya berjarak dua meter kurang darinya. Tetapi tetap saja, itu tak mungkin baginya. Ia mengalihkan matanya dari jendela bidik di kamera. ”Oke, that’s all for today.” ucapnya keras mengalahkan keramaian pasar. Wajah lega tampak dari kedua calon mempelai. ” Gila, aku gak ngira, bakalan seribet ini!” Celetuk Khairra ceria. Lelaki disampingnya mengawasi dengan tatapan matanya yang tajam.
“Tapi ini khan konsep kamu yang bikin?.” Rautnya menggoda
“Emang sih, tapi ini agak gila juga, aku jadi demam panggung. Hehehe”.
”Tapi kamu cukup natural kok” Sela Rana. Seketika mata Khairra berbinar, seperti bola bohlam 1000 megawatt.
”Ran, boleh lihat hasilnya bentar nggak?.” Rana memberikan kameranya.
“Itu masih mentah, entar di studio aku olah lagi, pasti lebih oke.”
Harum. Aftershave-nya baunya harum. Bahkan dalam jarak ini bau tubuhnya terasa enak. Pheromon-nya cocok untuk hidungku. Lamun Rana, ia mengemasi alat-alatnya. Seandainya…tapi seandainya itu percuma Rana!. Cetus bathinnya memintas khayalan. Tapi, mengapa lobang kawah di dada ini terasa sangat nyata?. Mengapa pula, mataku harus buram seperti ini setiap kali melihat kemesraan mereka?. Rana, Rana, percuma kamu sudah tahu apa yang harus kamu lakukan. Benaknya melayang.

Ya, karena itulah : Aku sudah tahu apa yang harus kulakukan. Maka diam menjadi pilihan.

Siapa yang menyangka akan seperti ini. Tidak Rana. Tidak Khairra. Tidak juga Bara. Ketika Khairra mengabarkan akan menikah dan Rana diminta jasanya untuk memotret, gadis itu serasa mendapatkan kesempatan. Studio foto yang dikelolanya masih baru, dengan relasi Khairra yang luas ia berharap akan mendapat order lebih banyak lagi. Mereka janjian untuk membicarakan konsepnya bersama, sekaligus akan mengenalkan Rana pada calon suaminya. Di telephone, Khairra tidak menyebutkan namanya, hanya mengatakan calonnya adalah pengusaha rekanan ayahnya. Rana, tak ambil pusing siapa calonnya, yang terpenting baginya adalah ia mendapatkan order besar untuk Studio foto yang baru dirintisnya setahun lalu.

Namanya Bayu Ambara. Dulu ia dipanggil Bayu. Sekarang orang-orang memanggilnya Bara. Rana mengenalnya sebagai Bayu. Khairra mengenalkannya mereka dengan nama Bara. Malam itu hujan, dengan petir yang saling menyambar. Rana tak pernah menyangka, petir bisa menyambarnya di dalam rumah. Hanya saja, dengan cara yang berbeda, dan sama sekali tak diduga.
“Bayu Ambara. Bara.” Ya, aku sudah tahu nama lengkapmu.
“Meutia Rana. Rana.” Genggamannya erat, seerat yang diingatnya. Tapi matanya tak menyiratkan ia mengenalku aku. Pikir Rana. Tapi apa yang diharapkannya? Ia sama sekali tak seharusnya punya ekspetasi apa-apa. Bayu/Bara, bahkan sama sekali tak tampak mengenalnya. Bagi dia, dia cuman Rana teman Khairra yang akan memotret pernikahan mereka. Bagi Rana, Bayu/Bara adalah penyelamatnya, atau orang yang tanpa sengaja mengulurkan tali di tengah pusaran keputus asaan Rana. Cintanya yang hilang. Itu sudah lama berlalu, hampir 10 tahun berselang, pantas bila Bara tak lagi mengingatnya. Lalu apa yang diharapkannya?. Rana tahu, ia tak bisa berharap banyak.

Malam itu mereka membicarakan konsep dan tekhnis yang akan digunakan untuk foto Pre-Wedding mereka. Hujan diluar menyisakan gerimis. Dingin. Tapi tak ada yang menyangsikan kehangatan yang terpancar dalam diri Khairra dan Bara. Tak perlu api untuk menghangatkan ruang. Tak perlu lampu untuk melihat jelas. Cukup maksimalkan akomodasi hati untuk menangkap apa yang telah tumpah ruah dari kedua. Cinta itu indah. Bagi mereka. Bagi Rana, cinta adalah kehilangan sekali lagi. Sesak. Pengap. Sakit. Oh, mungkin ini rasanya bila patah hati. Pikirnya muram. Malam itu, sekali lagi ia merasa dikhianati oleh takdir. Mungkin aku memang tak boleh mencintai?.

Rencananya memang begitu, ia tak berharap akan mencintai lagi.

Ayah dan ibu. Lingkaran cinta pertama yang diharapkannya, pupus dalam 3 kali ketokan palu di pengadilan agama. Keduanya memposisikannya sebagai beban, ketika masing-masing hendak melangkah untuk hidup yang baru. Ia merasa seperti bisul di pantat yang menyiksa sekaligus memalukan setengah mati, hingga harus dipencet sampai ke akar-akarnya, atau noda jelaga di gaun pengantin yang harus segera dienyahkan sebelum hari-H. Perasaan tak diinginkan itu hampir merampas nyawanya. Jika sakit jantung bawaannya masih tertanggungkan, tapi ada sakit lain yang lebih tak mampu tertanggungkan olehnya. Tak dicintai. Namun, kehadiran Bara mungkin adalah cara Tuhan mengatakan padanya bahwa Ia ada dan masih mencintainya.
Setiap istirahat sekolah ia selalu ke sana. Roof top sekolahnya, sembari mengamati apa-apa yang ada di bawah. Hari itu ia juga kembali ke sana.

Tapi hari itu berbeda.

Benaknya lelah akut. Putus asa. Gerimis dan mendung gelap memuramkan suasana pagi. Ia berdiri di bibir tembok pembatas, menatap aspal dari atas gedung 6 lantai. Gerimis menerpa tubuhnya, dan angin dingin menampar wajahnya. Benaknya kosong, sekaligus penuh. Beginikah rasanya bila orang akan menghilangkan nyawanya sendiri. Sesak. Sakit. Tapi yakin. Ia merentangkan tangan…
“Wah, kamu berani juga ya berdiri seperti itu. Aku sih phobia ketinggian” Sebuah suara menyapanya tanpa pretensi. Serentak ia menoleh, dan mendapati sepotong senyum yang tulus. Rana berdiri terpaku. Anak lelaki itu mengulurkan tangannya, genggamannya erat. Entah mengapa Rana menyambutnya. Ia turun dari bibir tembok pembatas. Kenapa aku mau aja diajaknya turun?.
“Kamu siapa?.”
“Aku gak kenal kamu, kamu juga gak kenal aku. Tapi aku pengen kasih mawar putih ini buat kamu. Kamu gak banyak cerita tentang dirimu tadi di acara ”If U Knew Me”. Maka dari itu, kurasa kamu yang paling tepat untuk nerima mawar ini. Aku peduli sama kamu. Semoga harimu menyenangkan.” Anak lelaki itu berlalu, tanpa tahu apa yang telah diperbuatnya telah menyelamatkan Rana. Ada yang mempedulikannya.

Rana merasa diselamatkan.

”Mbak Rana...Mbak Rana, Mbak.” Colekan Juned di pundaknya memotong Rana yang berkubang dalam kenangan. Rana tersentak. ”Ampun Mbak Ran, lagi nglamunin siapa sih khusyuk banget. Udah di tunggu tuh sama Mas Bara, Mbak Khairra mendadak ada panggilan ke kantornya, Mbak pulang diantar Mas Bara. Tripod ama alat-alat lainnya udah aku packing kok, aku langsung ke studio.” Rana mengangguk singkat, menggumamkan terimakasih pada asistennya. Juned mengawasi punggung Rana yang berjalan menjauh. Dahinya berkerut, ada apa sama Mbak Rana, gak biasanya dia semuram itu. Tapi boss-nya itu selalu penuh misteri.

Ironisme yang tak kamu tahu

Lagi-lagi gerimis. Pikir Rana sembari mengawasi lalu lintas di luar jendela yang mulai padat. “Kata Khairra, SMA kamu dulu di Santa Angelo ya? Aku juga pernah sekolah di sana lho, waktu ayahku ditugaskan di sini. Tapi aku cuman 4 bulan disana. Makanya aku sama sekali gak pernah kenal sama kamu.” Tapi kamu menyelamatkan aku.
“O ya, tapi waktu SMA aku emang gak menonjol kok.” Ucap Rana mengambang. “Pantes aja, kamu gak kenal aku.” Tapi aku sangat mengenal kamu, lebih daripada yang kamu tahu.
”Dunia emang sempit ya Ran?.” Bara tersenyum. Rana mengangguk pelan. “Ya Bara… dunia emang sempit.” Sebab dunia di hatiku hanya berisi kamu.
Bila jalinan takdir, ternyata memotong harapanmu. Apa yang akan kamu lakukan?. Itulah yang kujalani dan kurasakan sekarang. Aku menyimpan sosokmu dalam banyak ekspresi, terangkum dalam satu album. Sekaligus aku menyimpan harap, suatu saat aku bisa bisa ketemu kamu lagi, hanya aku tak menyangka bila menemukanmu juga sekaligus kehilanganmu.
”Kenapa kamu pindah dari Santa Angelo waktu itu?.” Tanya Rana tiba-tiba
“Oh, ayah pindah tugas lagi ke Bandung. Ngomong-ngomong, apa semua fotografer selalu sediam kamu? Seolah-olah pikiranmu gak ada disini?.” Rana tersenyum.Bara, diam bagiku adalah pilihan.
“ O ya, nggak juga kok. Aku memang selalu serius seperti ini. Ngomong-ngomong juga, aku jadi ingat sesuatu. Kayaknya dulu aku tahu kamu. Tapi bisa aja itu bukan kamu.” Hatinya menggemuruh. Harapnya membumbung.
”Aku dulu biasa dipanggil Bayu. Mungkin kamu tahu aku dengan nama itu. Tapi di rumah, aku dipanggil Bara.”
”Oh, pantas. Kalo gitu itu beneran kamu. Kamu inget acara ”If U Knew Me” nggak? Kamu ngasi aku mawar putih waktu di roof top sekolah….” Ingat Rana, lelaki di sebelahmu ini adalah calon suami temanmu. Rana menggigit bibirnya, menahan desakan kata yang hendak meluncur.

” Ya ampun, jadi cewek itu kamu Ran?.” Bara menatapnya sekilas. Rana mengangguk mendegut ludah. “Iya, itu aku.” Dan kamu menyelamatkanku. Tapi, kamu sekarang akan kawin dengan temanku. Jeda. Mobil Bara berbelok ke kompleks perumahan Rana.
“ Ternyata dunia bener-bener sempit ya. Tapi kamu sekarang beda banget sama yang dulu.” Katakan Bara, apa yang kamu ingat tentang aku. Katakan apa yang membuatmu memutuskan memberiku pertanda, memberiku harapan. Menyelamatkanku?. ”Beda gimana maksudnya?.”
” Yah, gimana ya. Pokoknya bedalah. Kamu dulu tampak muram banget. Sekarang sih kayaknya masih kayak gitu. Tapi keliatan lebih matang aja. Usia mungkin ya. Seingatku, waktu sharing sama anak-anak di acara itu, kamu juga gak banyak cerita tentang dirimu. Kamu cuma ngomong ortumu cerai dan kamu tinggal sendirian. Trus, mendadak kamu ninggalin acara.” Jadi kamu ingat Bara. Rana tercenung lama.
“ Karena itu, aku ngasi kamu bunga mawar ke kamu. Action talk louder than words, ingat peribahasa itu?. Gesturemu berbicara lebih banyak daripada kata yang kamu ucapkan. Jadi, kurasa kamu berhak untuk dapat mawar dari aku. “ Oh, jadi itu alasannya. Sebab aku berhak. Tapi, tahukah kamu Bara, setelahnya aku menyimpan cinta buat kamu. Kamu buat aku percaya hal itu lagi. Ataukah aku hanya punya ilusi yang sengaja kupelihara?. Rana asyik melamun lagi.
“…putih khan, lambang ketulusan Rana?, jadi aku tulus sama kamu. Hehehe ...Rana?, yah dia nglamun lagi.”
“Eh, sori, gak aku cuman mikir....” Putih lambang ketulusan katanya. ”Kayaknya kamu salah belokan deh. Rumahku, dibelokan yang sebelumnya.” Seketika tawa Bara meledak, sambil mengucak rambut Rana. ” Rana....Rana, kayaknya kamu harus ngurangin hobi ngelamun kamu, uda overdosis tuh. Hehehe!!!.” Aku gak ngelamun Bara, aku cuman menikmati kesempitan yang ada. Aku menikmati kamu ada disisiku. Aku menikmati ironisme dari apa yang ku tahu dan apa yang tak kamu ketahui. Bathin Rana.

Jikalau, seandainya kamu tahu…
Jam digital diatas meja menunjukkan angka 03.09. Printer itu berdengung pelan, mencetak lembar demi lembar foto ukuran A3. Sementara album foto berukuran besar terbuka diatas meja. Rana bertelungkup di atas meja kerjanya, melepaskan sembab yang selalu mampat 10 hari terakhir. Inilah surga sempitku, diantara serakan fotomu 10 tahun yang lalu. Kamu yang sedang tertawa, kamu yang sedang berjalan, kamu yang sedang makan, kamu yang sedang duduk, kamu diantara kawan, kamu yang sedang berlatih dilapangan, kamu yang sedang diam. Jutaan ekspresi milikmu. Rana melirik serakan foto berukuran besar lainnya yang bertebaran di lantai, seolah mengejeknya. Itu kamu yang sekarang. Kamu yang sedang tersenyum, kamu yang sedang memeluknya, kamu yang sedang dipeluknya, kamu...kamu...kamu yang lain. Kamu yang berjarak, kamu yang tak mampu kujamah, kecuali lewat bidikan lensa, sebab kini kamu adalah miliknya. Rana menebah dadanya, merasakan sesuatu yang memampatkan aliran darah ke jantung dan meremas napasnya. Sejenak ia mengerang, sebelum menyongsong gelap tanpa ujung. Gadis itu ambruk dari kursinya, menimpa foto-foto Bara-Khairra.

Ketika kamu terlelap…
Monitor kecil disamping meja, berbunyi secara konstan, memberitahukan pesan gamblang. Lelaki itu melembari ulang album yang ada di pangkuannya, membaca pesan dari secarik kertas yang ada pada tiap-tiap halaman. Mirip caption dari masing-masing foto. Sore tadi, ia mengambil foto-foto Pre-Weddingnya, Juned memberikan semua file foto dan cetakkannya pada Bara, ketika ia hendak berlalu, Juned memberikan album foto itu. “ Ini pribadi buat Mbak Rana, tapi kayaknya Mas Bara perlu tahu.” Ucapnya singkat. Album itu sederhana, tapi sejak membuka halaman pertama Bara sudah terperangah, sebab ia menatap wajahnya sendiri, 10 tahun yang lalu. Ia merasa memasuki mesin waktu, memaksa mandelbrot otaknya mengkais-kais ceceran memori usang yang entah tersembunyi di mana.

Rana, ternyata aku juga punya rasa sama kamu. Waktu itu. Hanya saja selalu tak cukup waktu buatku mengenal kamu. Pekerjaan ayahku menuntutnya selalu nomaden, buat apa aku merajut asa, bila tak lama lagi aku akan meninggalkan semuanya. Tidakkah kau merasa akan percuma, sebab yang akan tertinggal kemudian adalah rasa sakit semata?. Aku tak jujur padamu ketika mengatakan bahwa kamu sekedar berhak menerima mawar itu. Aku ingin memberimu pertanda : bahwa aku memperhatikanmu. Kendati waktu tak pernah berpihak padaku. Ketika waktu kembali mengambil kendali dan berjalan. Rasa itu kian sublim. Mengkristal. Mengendap dalam gorong-gorong memori usang. 10 tahun bukan waktu yang pendek, dan aku terlupa bahwa rasa itu pernah ada. Tak setitik pun aku berharap kamu menyadari apa yang kurasa, asa yang kupunya. Sayangnya, aku salah.

Malam kian tua. Hawa dalam ruangan menguarkan aroma obat yang kental. Bara menggenggam tangan Rana, tangannya dingin. Tapi, tidakkah sesal itu sungguh percuma Rana?. Menyesali untuk sesuatu yang tak terjangkau olehmu, olehku, oleh kita?. Aku punya pilihan, hidup ini adalah serangkaian pilihan bukan?. Jika bagimu diam adalah pilihan, kurasa diam adalah pilihanku juga, tak perlu kukatakan alasannya mengapa, kamu lebih tahu daripada aku. Seperti katamu, kita tak akan pernah tahu pada siapa kita jatuh cinta.

Rana mendekap album itu di dadanya. Terpejam membayangkan sesuatu yang diluar jangkauan. Sejak siuman tadi pagi, tiba-tiba ia mendapati album itu di samping tempat tidurnya plus sekuntum mawar putih di jambangan. Bara. Ia yakin laki-laki itu mengunjunginya semalam, sebab aroma parfumnya masih tertinggal, baunya tipis dan samar tapi masih menjejakkan keberadaannya semalam. Ia merasa harus mengatakan sesuatu. Harus, dan tak banyak waktu lagi. Rana meraih notes kecil disamping tempat tidur. Jemarinya gemetar mengukir kata.
Ia sudah tahu mereka akan datang bersama. Bahkan sebelum Khairra tampak di ujung pintu untuk menyapanya.

” Ran, kamu kok gak ngasih kabar sih kalo kamu masuk RS. Aku baru tau dari Bara kemarin. Dari tempat kerja aku langsung kesini sama Bara!. Gimana kondisimu? Ya ampun Ran, aku jadi ngerasa bersalah, kamu kecapekan ya ngerjain foto Pre-Wedding kami? Ya ampun Ran, .....”. begitu datang Khairra langsung menggabruk Rana, rautnya pias khawatir dengan kondisi Rana.
” Khairra, aku udah gak apa-apa. Ini udah biasa, kamu ingat aku punya penyakit jantung bawaan khan? Gak usah khawatir atau merasa bersalah gitu deh. Selain ngerjain foto kamu, aku khan juga ngerjain yang lain juga. Dr. Harris sebenarnya udah warning aku untuk gak kerja terlalu keras, aku aja yang terlalu bandel. Sungguh, aku udah gak pha-pha kok. Aku cuman diharuskan istirahat aja untuk beberapa minggu.” Rana tersenyum lucu melihat raut Khairra.
“Kamu selalu gitu deh, keras kepala kalo di kasi tau.”
“Aku khan udah gede, aku tau batasanku dong!” Tukas Rana. Khairra mendelik.
“Tau batasan? Kamu udah ambruk masih ngomong tau batasan? Rana…look ya…” Handphone Khairra tiba-tiba berbunyi nyaring. “Wait!” cetusnya kesal begitu mengamati nama yang tertera di layarnya. ” Im saving by the bell. Its finish!” Seru Rana tertawa. ”Not yet!!!” Bibir khairra membentuk kata itu. Khairra berjalan ke sudut ruangan berjendela untuk menerima telephone memunggungi Rana. Bara memasuki ruangan sambil membawa seikat mawar putih lagi, dan langsung menaruhnya di jambangan. Rana memahami pesan itu.

“Gimana keadaannya Ran?.” Tanyanya sambil tersenyum. “ Better. Seperti yang kamu lihat. O ya, kamu semalam ada di sini?.” Bara mengangguk pelan. Rana mengeluarkan notesnya.
TAK CUKUP WAKTU, TAPI AKU PERLU MENGATAKAN SESUATU.
Bara mengangguk, mengiyakan. Bibirnya membentuk kata “Katakanlah”. Rana membalik notesnya.
APA YANG KURASAKAN BUKAN SESUATU YANG MUDAH UNTUK DIUNGKAPKAN.
AKU TAK INGIN, APA YANG KAMU LIHAT DI ALBUMKU MEMBUATMU TERBEBAN.
Bara tersenyum.
TAPI... YA. AKU MENYIMPAN HATI BUAT KAMU.
DAN CUKUP HANYA SAMPAI SITU.
KITA TAK BERKUASA, ATAS APA YANG TAK PERNAH KITA KETAHUI, SEBAB…
Rana membalik halaman notesnya. Bara menahan napas.
KITA TAK PERNAH TAHU PADA SIAPA KITA AKAN JATUH CINTA.
Bara menghela napas. Merasakan ada beban yang terlepas.
SETULUS HATI KUKATAKAN : AKU IKUT BERBAHAGIA UNTUK KAMU DAN KHAIRRA.
Lega. Bara menggenggam tangan Rana erat. “ Makasih Ran.” Rana mengangguk. ” Aku yang seharusnya bilang terimakasih, walaupun terlambat 10 tahun. Makasih untuk menyelamatkanku di roof top dulu.”

Di pelataran parkir. ” So, Sugar kamu uda nyelesaikan apa yang tertunda dari kalian?.” Deg. Bara terdiam menatap Khairra. Dimatanya ia hanya menemukan kerling tanya. Khairra tahu. Keningnya berkerut. “Dari mana kamu tahu, ada sesuatu yang tertunda antara aku dan Rana?.” Khairra berdecak, matanya berputar-putar lucu. “ Mmm… jawabannya mudah, aku mencintaimu karena itu aku tahu. Its so obvious dont you see?.” Bara mengangguk setuju, sekaligus takjub menyadari arti baru dari pengakuan Khairra. “Dan kamu gak cemburu?.” Godanya. “Emang perlu untuk cemburu?.” Bara menggeleng. “ Nggak Hon, nggak penting untuk cemburu.” Jeda. “ honey you know…, that’s why I love you.” Khairra tersenyum menggenggam tangan Bara. “ Kamu uda ngomong itu seribu kali.” Hangat. Ia merasakan kehangatan itu merambati dadanya pelahan.(RM)

Tidak ada komentar: