Selasa, 27 Januari 2009

PULANG


PULANG


Fragmen pertanda…

Matahari belum lagi mencapai tinggi sepenggalah, tapi dalam rig ini bola bundar itu menjilat-jilat bagai monster kelaparan yang rindu asamnya keringat manusia campur asinnya air laut. Dari kejauhan tampak supervisor-nya Pak Hasyim sedang bersitegang dengan Pedro, pemandangan yang jadi menu sehari-hari, terlalu lumrah, terlalu biasa.

Sembari menunggu perdebatan itu selesai, Omar mengarahkan pandangnya ke laut lepas. Ia memang mencintai laut, setengah siang ini, laut bak lazuli membiru yang teramat luas, sinar matahari yang menimpa air dalam memantulkan kemisteriusan tak terjamah. Ditingkahi camar yang terbang rendah mendekati talang nan menjulang, saling bersiutan satu sama lain memanggil kawanannya mendekat. Burung camar, entah mengapa selalu mengingatkannya pada musafir yang terbang ribuan mil dari tempat bernama rumah, seperti dirinya sekarang, dan lautan adalah tempatnya bertualang, membuktikan kejantanan. Ia merogoh sakunya mencari rokok, menimbang-nimbang, toh posisinya jauh dari lokasi drilling, lagipula Pedro tak akan melihat begitupula Pak Hasyim. Tapi, ia tak menemukan rokoknya. Ia menemukan surat itu. Surat yang dikirimkan bapaknya, mengharapkan ia pulang. Ia ingin membuang surat itu begitu selesai membacanya, tapi ia tak sempat karena suatu hal. Ia memegang surat itu, dan ingin membacanya sekali lagi sebelum membuangnya kelaut seperti surat-surat lainnya. Huruf-hurufnya yang tinggi begitu cerlang tertimpa sinar matahari yang tumpah ruah. Omar hampir tak mampu membacanya karena terlalu silau. Tak biasanya bapaknya menulis surat sampai dua lembar, biasanya cuman selembar dan itupun tak terlalu banyak bercerita, langsung pada intinya : butuh uang. Tapi surat kali ini entah mengapa berbeda, karena bapak menyempatkan bercerita tentang sanak keluarga, menyempatkan menulis sepotong rindu padanya, menyempatkan menulis harapannya agar Omar sungguh-sungguh pulang pada lebaran kali ini. Tapi bukan berarti surat itu berbeda buat Omar, karena ia tetap tak akan pulang, ia akan menunda kepulangannya, entah sampai kapan.

Omar memandang ke arah dua orang itu lagi, menunggu aba-aba Pak Hasyim untuk mengkomandoinya menurunkan alat. Samar ia mendengar apa yang menjadi penyebab ketegangan antara Pedro, si Company Man yang seringkali dijuluki diam-diam oleh kawan satu rig dengan “Geblek”.
“ Dari analisa mud logger, kita belum bisa bekerja Pak. Tekanan gas dibawah terlalu tinggi, kita memang harus menunggu.” Logat Madura Pak Hasyim yang berirama terdengar sangat sayup. Pertanda ia mulai tak suka dengan sikap Pedro.
Dari kacamata pilotnya yang Omar yakin harganya selangit, si Geblek itu menggelengkan kepala sambil mengamati sesuatu pada alat. Ia mendengus kesal. ” Bukan tugasmu memutuskan, saya yang akan cek. Pokoknya saya mau, kamu dan tim kamu siap sebentar lagi.” Ucapnya tandas.
Mulut Pak Hasyim komat-kamit ia yakin, lelaki yang sudah dianggap bapaknya sendiri itu sedang misuh-misuh. Pedro memeriksa analisa mud logger, Pak Hasyim, membenahi alat walaupun rautnya tampak setengah hati. Wajahnya tirus, berwarna tembaga dalam kelimpahan cahaya, begitupula serabut perak dirambutnya yang kian lebat. Tiba-tiba Pak Hasyim menoleh ke arahnya sambil mengerakkan jari telunjuknya miring diatas dahi. Sinting. Ia memberi pesan bahwa Pedro sinting. Omar tersenyum saja, sembari mengawasi laki-laki itu mengutak-atik alat.

Lima tahun bekerjasama dengan Pak Hasyim, Omar sudah sangat hapal gesture-gesture yang digunakan lelaki itu. Juga dengan berbagai macam triknya mengatasi Company Man macam Pedro. Lelaki itu memiliki intuisi setajam belati, dan Omar tak meragukannya bila ia mengatakan jangan melakukan logging dulu. Tapi Pedro, tetaplah Pedro yang merasa lulusan luar negeri dan merasa lebih pandai, walaupun Geblek. Pak Hasyim hampir kehabisan akal mengatasi kenekatan pria muda itu. Semalam, ketika mereka melepas lelah ia mengeluhkan perangi Pedro yang terlalu nekat, tapi itupun hanya sambil lalu, ia lebih banyak bercerita tentang keluarganya. Ia ingin segera pulang ke Madura. Ia sudah merindui tanah garam itu, ia merindui istri dan dua anak perawannya yang sudah tak ditengoknya setahun. Setiap setahun sekali memang Pak Hasyim selalu menyempatkan untuk pulang, sementara hanya Omar yang bertahan dalam mess perusahaan. Omar teringat percakapannya semalam.

“Kamu nggak pulang lagi Mar?.” Tanyanya pelan, sembari menatap laut lepas di rembang petang menyisakan rencah cahaya keemasannya.
“Nggak Pak, saya di mess saja, kayak biasanya.” Ujar Omar jelas.
“Kalo aku justru kebelet pengen pulang, aku sudah kangen sama istri dan anakku, sudah setahun aku ninggal mereka. Aku sudah kangen sama Madura. Sama asinnya udara, tanahnya yang berkapur, cuacanya yang terik, udaranya yang kering, suara adzan dari múshala reyot sébelah rumah. Keringat istriku sehabis nyawah. Kalo kamu sudah rumah tangga mungkin kamu ngerti apa yang tak rasakan. Lebaran tinggal sepuluh hari, aku pengen kerjaan ini cepet selesai, moga-moga besok tekanan gasnya sudah menurun, jadi kita bisa nurunin alat.” Omar mengamati raut muka lelaki itu, ia membaca kerinduan yang tertera sejelas gelap yang kian menangkup semesta. Ia teringat suratnya.
“Bapak saya kirim surat lagi Pak, minta saya pulang. Tapi saya kok nggak pengen pulang. Saya gak suka di rumah mau ngapain. Enakan di mess, bisa main-main.” Pak Hasyim, berdehem sebentar mendengar Omar.
“ Pulang, mungkin gak enak buat kamu. Tapi jangan lihat kamu saja, lihat orang sekeliling kamu, yang mungkin berharap pengen kamu ada. Apa susahnya sih meluangkan waktu 7 atau 14 hari dari 365 hari milikmu dalam setahun, cuman untuk sowan saja kok. Kalo saranku, kamu pulang aja. Udah lima tahun kamu gak pulang kan?. Mungkin dengan kepulanganmu ini ada sesuatu yang menunggumu. Siapa tahu?.”

Teriakan Pedro memintas ingatan Omar. Tampaknya, mereka berdua sekarang sudah bukan bersitegang lagi, cekcok itu semakin sengit. Pedro, tampak menuding-nuding pada Pak Hasyim, begitupula Pak Hasyim yang tak kalah gahar mengacungkan telunjuknya di muka lawan bicaranya.
“ Kenapa peralatan kalian tak bisa bekerja dalam tekanan tinggi seperti ini heh? Sementara milik Oil Service lainnya bisa? Alat kalian sudah kuno atau kalian tak mau ambil resiko?”. Dasar geblek, Omar memaki dalam hati. Tapi ia memilih mengigit lidahnya, bukan pada kapasitasnya ia memaki Pedro.
” Heh, Pedro pokoknya aku tidak mau menjalankan alat sampai semuanya safe. Kamu bisa membahayakan nyawa orang cong. Kamu dengar itu Pedro.” Pak Hasyim sudah benar-benar marah, tak hanya logatnya yang keluar, Pak Hasyim sudah menyebut Pedro ‘cong’ atau ‘bocah’ dalam bahasa ibunya. Pedro nampak tak sabar, ia berkata sesuatu, namun suaranya tersaput suara ombak.
” Kamu dengar tidak Pedro? Resikonya terlalu tinggi. Kamu boleh coret namaku dari kontrak ini kalau mau terus, aku tak bertanggung jawab atas apa yang terjadi.” Pak Hasyim ngotot. Sejenak mereka berpandangan laiknya harimau yang saling mengukur kekuatan. Pedro nampak sekali jika merasa terhina. ”Oke!” pungkasnya sambil mendelik. ” Saya coret nama kamu. Akan saya laporkan pada Petro.Inch apa yang terjadi.” Omar bertukar pandang dengan Fariz yang sedang pucat kebingungan dari kejauhan. Insinyur muda yang sedang dibimbing Pak Hasyim itu membasahi bibirnya yang kering tampak ketakutan. Pedro mendadak menoleh ke Fariz. ”Aku gak mau tahu, sekarang kamu yang in charge disini. Run alat itu!. Kalau tidak Petro. Inch harus ganti rugi.” Salak Pedro ganas, pada Fariz. Sementara Fariz menatap Pak Hasyim minta dikasihani. Omar tahu, lelaki itu tak akan tega memberikan beban seperti ini pada anak buahnya, apalagi Fariz baru beberapa bulan bergabung dengan Petro.Inch. Omar mendekat, berniat menggantikan posisi Fariz tanpa setahu Pedro, dan memindahkan Fariz pada posisinya. Ia melihat dada Pak Hasyim naik turun, kegeramannya nampak jelas terpeta dalam raut tirusnya.
“ Beri aku waktu menelpon head office.” Terdengar suara Pak Hasyim, yang sedikit melunak tak lagi keras, hampir seperti memohon pada Pedro.
Pedro mendengus kesal. “Tidak!.” Tukasnya tajam “Kamu sudah tak punya otoritas lagi untuk kasih perintah. Besok pagi-pagi kamu berangkat dengan chopper pertama.” Suara Pedro begitu final. Pedro menoleh pada Fariz, dengan lagak komandan batalyon yang memberi perintah pada anak buah. “Heh, kamu!. Jangan diam saja. Segera run tool itu!.” Fariz makin gugup. Pedro berteriak-teriak pada yang lainnya. Pak Hasyim menoleh ke arahku, “Cepat hubungi head office, kasih tahu keadaan kita dan analisa mud logger. Kasih tahu juga Pedro geblek itu mau ngapain!.” Omar tak jadi menggantikan Fariz, ia langsung berlari mencari telpon. Terakhir ia melihat Pak Hasyim bertukar jaket pekerja Fariz supaya tak diketahui Pedro, sementara Fariz mengambil posisi berjalan ke mulut lubang sambil menurunkan alat sensor ke liang sumur yang ratusan meter kedalamannya, dan telah dilapisi pipa besi. Liang bumi yang begitu gelap dan pekat, didalamnya manusia menggerus lempung dalam kerak bumi guna mengais fosil-fosil binatang purba yang mencair seiring waktu, juga gas yang sangat eksplosif karena tekanan yang tinggi. Omar sampai ke bilik telpon dekat kantor, ia memutar nomor telpon head office sambil menutup telinganya yang berdenging oleh berbagai keramaian. Ia mendengar Fariz berteriak-teriak menyuruh operator mengulur tambang kawat sampai dasar lorong dan bersiap menyalakan mesin.

Telponnya tersambung, tapi masih nada tunggu.

Omar mendengar deru mesin menyala, dari jendela sempit ia mengawasi kesibukan dibawah.

Dentuman itu mengaum tiba-tiba.

Anjungan tergoncang luarbiasa hebat. Omar terjerembab. Dari jendela sempitnya, ia melihat tiga tubuh terlontar ke atas seperti dipegas dengan kecepatan sepersekian detik. Jaket kuning pekerja itu berkibar-kibar dalam tingginya gas melayangkan tubuh mereka. Katup-katup peredam ledak di mulut sumur, tak mampu menahan sebagian tenaga yang merunyak ke atas, dan menjebol apapun yang ada diatasnya, termasuk alas besi tempat para buruh berdiri ikut terlontar ke udara, berikut tanda ”safety first”, kuning mencolok seolah sedang mengolok. Dalam kecepatan yang dikuasai alam seperti itu, tak ada yang sempat diselamatkan atau menyelamatkan, semuanya terpaku dalam kebekuan atau ketakutan. Tak juga ketika tubuh Pak Hasyim dan Fariz, serta satu orang buruh lainnya yang berjatuhan membentur lantai besi geladak, lalu secara estetis kemudian terlontar ke laut yang sedang bergolak dalam kemarahan menelan tubuh para kawan seperjuangan. Omar berteriak memanggil dari jendela sempit, mengiringi gerak lincah buih yang mencaplok tubuh Fariz dan Pak Hasyim dalam satu kuapan manis. Lindu membahana, anjungan berkeretak. Api melangit. Suara alarm. Pekerja di rig berlarian tak tentu arah bersicepat menuju kapsul darurat. Chaos mengambil tempat.

Mendadak, seperti datangnya anjungan kembali tenang. Menyisakan lubang besar berasap dari liang yang dalam. Manusia diatasnya kembali terpaku beku kian menyadari betapa kefanaan adalah menyekaligus dengan kerapuhan.

Ia Pulang...
Kapal yang membawanya buang sauh menjelang subuh. Setelah lima tahun, ia mencium hawa itu lagi. Hawa yang selama ini ternyata hanya mengendap tapi tak pernah terlupa. Hawa kotanya, Surabaya. Matahari masih begitu prematur, terbungkus dalam sisa selaput malam yang bercadar. Omar melangkah keluar pintu kapal, berdesakan bersama banyak pemudik lainnya. Perjalanan 5 hari itu sungguh melelahkan, tapi herannya ia tak melihat raut lelah pada wajah-wajah itu, yang ada hanya antusiasme, dan kegembiraan. Juga sebuah nuansa lain, yang memiriskan hati. Ia pernah sekali melihat pada wajah Pak Hasyim di rig pada malam terakhir itu. Manusia menyebutnya rindu, sebuah kekuatan yang melelai begitu magisnya. Sekarang ia memahami sepenuhnya perkataan Pak Hasyim, bersama ribuan orang dalam kapal ini, ia merasakan roh rindu datang meremas napas.

Sayup-sayup ia mendengar masjid mengurai pagi dengan suara adzan yang melindap dalam gelap. Omar memutus segera pulang, ia mencegat taksi pertama yang melintas dengan harga non-argo yang gila-gilaan. Sepanjang perjalanan ia mendengar tasbih dan tahmid memuja Sang Pencipta Hidup melayang-layang diudara. Lima tahun ditinggal kotanya tak banyak berubah. Hanya saja kota makin rimbun, dinaungi pepohonan dengan dedaunan yang saling menangkup, memeluk udara. Laiknya kota yang sedang berbenah, banyak mal-mal berceceran dalam jarak dekat, selain itu tak ada yang berbeda secara fisik.
Sopir taksinya seorang anak muda, usianya mungkin tak lebih dari dua lima, tetapi rautnya sudah nampak kuyu dimakan beban, mungkin ia sudah berumah tangga. Ia juga seusia itu ketika meninggalkan rumah, berbekal ijazah, ia melamar kerja dari suatu lowongan koran sebagai buruh lepas pantai, dan terdamparlah ia di rig satu ke rig lainnya. Dari laut satu ke laut lainnya. Ketika ia diterima pertamakali di Petro.Inc, ia tak merasakan apa-apa. Hanya bersyukur bisa keluar dari rumah. Sebab ia sudah tak tahan dengan bapaknya, pilihannya cuman dua, pergi atau membunuhnya. Seperti bapaknya menghisap pelan semangat hidup umi’nya dengan kesukaannya pada ‘daun muda’. Omar menghela napas. Klise. Cerita ini terlalu klise karena nampak sama dengan cerita nestapa 1001 yang lainnya. Tapi sungguh betapa, mendengar berbeda dengan mengalami. Omar menghela napas, menatap keluar jendela lagi. Tahun kemarin, saat ini yang dilakukannya mungkin tidur lagi setelah menunaikan sholat Id, tapi peristiwa yang terjadi pada Pak Hasyim dan Fariz di rig sungguh-sungguh mengguncangkan keteguhannya.
Siapakah dia, yang hanya manusia?. Yang bahkan tak bersuara ketika takdir mengambil kuasa. Tak pula ia mampu menolong kedua sahabatnya, ketika makhluk cair mahabesar bernama lautan menelan mereka berdua, dan kemudian diam. Seolah-olah tak terjadi apa-apa?. Tak menyisakan jua sepotong tubuh untuk dihantar pada keluarga yang menunggu di rumah, untuk ditangisi, untuk dikubur, dan untuk dikenang. Hanya genangan darah yang memerah, membisu dalam bau amisnya. Pak Hasyim tak sempat pulang ke Madura, tak sempat menjumpai para anak perawannya, tak sempat mendengar adzan dari musala, tak sempat mencium bau keringat istrinya sehabis nyawah. Sedangkan Fariz, ia tak sempat pamit pada Sawitri, padahal ia sudah rindu setengah mati. Seusai lebaran, pada bulan besar, ia hendak melamar. Tampaknya impian itu tak terjadi. Dan, betapa ia berharap semoga Pedro dipenjara begitu lama, hingga mencicipi neraka dunia. Hari ini, hari suci tapi ia masih tak selera untuk memaafkannya.

Sementara ia serasa ingin pulang, bukan karena ia kapok atau takut mati. Tapi karena ia takut tak sempat berpamit, ia takut tak sempat beruluk salam pada mendiang ibunda, tiba-tiba menjumpainya di atas sana. Ia takut tak sempat berucap pada bapak, bahwa ia merindukannya pula. Atau jika bisa, dan keberanian semoga masih dipihaknya ia ingin mengatakan pada dia, gadis yang kerlingnya menyilap napas, dia yang bahkan tak tahu ia ada. Mayra. Bahwa sesungguhnya ia mencintainya, sepenuh jiwa, tak peduli tepat atau tidak, ia hilang atau nampak. Bukankah cinta tak butuh banyak kata?.

Taksi berhenti didepan kampungnya, orang-orang bersiap hendak berangkat sholat Id, tetapi ia merasa ada yang aneh. Sepotong bendera putih melambai begitu jahatnya di cagak gapura kampungnya, pertanda malaikat El-maut baru saja hadir mencabut nyawa. Ia bertanya-tanya siapa gerangan yang melepas nyawa pada hari yang demikian suci ini, tak inginkah El-maut meminta cuti hanya untuk sehari ini saja?. Dadanya berdesir menggemuruh ketakutan, mengingat bahwa ia pernah begitu dekat hanya sesenti. Omar berjalan cepat-cepat, ia ingin segera sampai rumah. Ia menghitung dalam hati, di tikungan berikutnya ia akan sampai. Tapi orang-orang yang mendorong kereta keranda mendahuluinya. Tak ada wajah yang dikenal olehnya. Ia mengawasi sampai kereta keranda itu menghilang di tikungan.

Ia sampai di tikungan, ia melihat rumahnya yang bercat putih berdiri dengan megah, seperti yang diingatnya dari foto yang dikirimkan bapaknya. Rautnya pias seketika, ketika ia menyadari, keranda itu berhenti didepan rumahnya. Segera ia berlari meninggalkan bawaanya. Kenyataan yang didapatnya kemudian serasa melolosi tulang-tulangnya. Ia pulang hanya untuk menjumpai bapaknya yang terbujur kaku tertutup kain biru. Ia teringat kata-kata Pak Hasyim, ...mungkin dengan kepulanganmu ini ada sesuatu yang menunggu. Sayang, bapak tak kuat menunggu sampai ia berucap sepotong rindu yang diakui dan dibawanya sambang pulang. (RM)

Tidak ada komentar: