Kamis, 29 Januari 2009

CINTA DALAM SEPOTONG SINGKONG

01.35 dinihari, dan manusia masih tertidur dalam pelukan malam. Aku baru saja pulang kerja, badan penat, pikiran lungkrah, tak ada makanan di atas meja, padahal perutku keruyukan kelaparan sedari sore. Aku memilih tak makan terlebih dahulu, karena aku pengen sekali makan di rumah, sembari nonton TV, pake daster, makan pake tangan, walaupun dengan konsekuensi aku hanya akan ditemani keluargaku yang sedang pesta pora di pulau kapuk.
Tak ada makanan di meja. Ya sudahlah, nasibku. Hehehe. Aku menghidupkan TV dan menemukan salah satu saluran TV swasta menayangkan film barat, aku menontonnya sembari mengakal bahan makanan yang ada di kulkas untuk mengganjal perut. Yang tersisa hanya sebakul selada serta kawanan cabai. Ya sudahlah, aku menggoreng nasi yang tersisa di meriahkan oleh kawanan selada yang menggunung.
Sedang asyik makan dan nonton TV, papaku terbangun. Ternyata dia ngompol. Tapi tak tahu bagaimana mengatakannya, ia hanya membuat suara untuk menarik perhatian orang sekelilingnya. Sejak divonis demensia vaskuler oleh dokter setahun lalu, yang mampu dilakukankannya hanyalah berbaring di dalam kamar, menikmati dunianya yang tak terjamah olehku. Oleh ibuku. Oleh kami sekeluarga.
Aku menyapanya, mata tuanya tersenyum padaku. Aku mencium keningnya. Aku mengatakan ”Aku makan dulu ya pa, ntar aku gantikan. Aku lapar...” ia hanya mengangguk-angguk entah mengerti atau hendak mengatakan yang lain. Ia meraba-raba ke bawah bantalnya, dan... ditangannya yang terulur padaku, ada sepotong singkong keju bekas gigitannya...

Seketika hatiku rebah.
Memoriku melesat saat bertahun-tahun yang lalu.

Papaku adalah papa yang romantis, ada sebuah momen yang masih kuingat hingga kini, momen itu mungkin bukan momen paling spesial diantara beragam momen bersama papaku lainnya, namun ”perasaan” yang tertinggal itu, yang membuatnya sedemikian berarti. Aku baru berusia 6-7 tahun mungkin. Hari minggu, dan aku tak jua mau bangun pagi. Ia berkali-kali menggangguku, dengan menggoyang-goyangkan kasur tingkat yang kutempati bersama kakakku, menowel-nowel pipiku, sampai aku bangun dalam keadaan kesal... dan menemukan manisan...

Kesalku melenyap.
Hatiku demikian hangat. Menggembung, melesat oleh rasa senang seperti balon yang baru saja dipegas selama sepersekian detik oleh pompa kebahagiaan.
Ketulusannya menyentuhku telak. Menundukkanku yang pemberontak.

Kelak. Ketika aku dewasa, aku selalu mengingat momen itu bukan pada peristiwanya, namun pada bagaimana sebuah ”kejutan kecil” ternyata memiliki kemampuan menimbulkan sebuah kebahagiaan. Kebahagiaan itu seharga Rp. 25,- saja. Manisan yang diberikan oleh papaku. Begitu juga sepotong singkong keju yang disimpannya dibawah bantalnya... untuk aku..
Aku menerimanya dengan napas yang tercekat oleh tangis, sementara ia tersenyum terkekeh-kekeh senang karena aku menerima pemberiannya. Rautnya lucu dan tampak puas karena ia melihat wajahku yang juga tertawa. Tertawa sembari menangis tepatnya. Dinihari buta, dengan hati kami saling berbicara, setelah sekian lama kami jarang bersua. Aku yang terlalu sibuk bekerja, dan dia yang meninggalkan ruang hampa di dada.
Dan betapa aku menyadari, aku sungguh-sungguh sangat merindukan sosok lelaki itu. Papaku. Dia yang ketika kecapekan sepulang kerja, ternyata menyempatkan dirinya mengantarkanku ke toko buku, hanya supaya aku bisa membaca komik ”Candy-Candy”. Ia yang membelikan buku pertamaku. Ia yang mengajariku membaca dan menulis. Ia yang mengajariku naik sepeda roda dua kemudian motor. Ia yang ketika sudah terkena stroke masih mengantarkanku mengurus SIM pertamaku. Ia yang selalu mengambilkan raporku. Ia yang mengajariku menggantikan busi motor yang aus. Ia yang mengajariku cara mengganti sakelar lampu yang putus. Ia yang mengajari bahwa campuran antara semen dan pasir untuk tembok adalah 1:3.

Betapa segalanya demikian berarti ketika itu ”menghilang”. Papa memang masih ada bersama kami. Alhamdullilah, semoga Allah selalu menjaganya dan memberinya usia panjang untuk menyaksikan anak-anaknya melalui berbagai pijakan hidup. Aku ingin papa melihatku ketika aku memakai toga, melihat anak-anaknya menikah. Melihat anak-anaknya melalui setiap pijakan hidup. Kendati ia mungkin tak mengerti, karena demensia vaskuler yang merampas produktivitasnya. Namun aku percaya, nun didalam sana, dalam wajah hatinya yang paling terang, akan selalu ada nama kami. Seperti momen yang sangat jarang ditampakkannya padaku: sebentuk ketulusan dalam sepotong singkong. I Love U Papa. Much. Always.


Yours,

Rizka

Tidak ada komentar: